Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KIS Group Bangun 25 Pabrik Bio-CNG dari Limbah Sawit Senilai US$100 Juta

KIS Group menargetkan pembangunan 25 pabrik bio-CNG di Sumatra Utara dengan total nilai investasi mencapai US$110 juta.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 28 September 2022  |  15:42 WIB
KIS Group Bangun 25 Pabrik Bio-CNG dari Limbah Sawit Senilai US$100 Juta
Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Edi Wibowo secara simbolis meletakkan batu pertama proyek bio-CNG di PT United Kingdom Indonesia Plantation, Blangkahan, Langkat, Sumatra Utara, Rabu (28/9/2022) - BISNIS - Denis Riantiza M.
Bagikan

Bisnis.com, LANGKAT - PT KIS Biofuels Indonesia mulai melakukan pembangunan 25 pabrik biomethane compressed natural gas (bio-CNG) dari limbah sawit skala komersial dengan total kapasitas 387.000 M3.

Mulainya pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama untuk pabrik yang akan dibangun di perkebunan kelapa sawit milik PT United Kingdom Indonesia Plantation (AEP Group) di Blangkahan, Langkat, Sumatra Utara.

CEO PT KIS Indonesia K R Raghunath mengatakan, proyek ini merupakan proyek bio-CNG komersial skala besar pertama di Indonesia dan Asia.

Pada April hingga November 2023, KIS akan melakukan komisioning untuk tiga proyek pertama kerja sama dengan Anglo Eastern Plantations (AEP Group) dan Mahkota Group dengan volume bio-CNG mencapai 1.230 MMBtu/hari.

"KIS telah tanda tangan kontrak untuk waktu yang panjang dengan PTPN, Ok IV AEP Group, Mahkota Group dan group lainnya untuk memasok limbah organik," kata Raghunath dalam acara Groundbreaking BioCNG Plant, Rabu (28/9/2022).

KIS Group menargetkan pembangunan 25 pabrik bio-CNG di Sumatra Utara dengan total nilai investasi mencapai US$110 juta. Pembangunan sejumlah pabrik tersebut ditargetkan rampung pada Desember 2024. Proyek ini diklaim akan mampu mengurangi emisi karbon sebesar 3,7 juta ton CO2 per tahun dan menghasilkan 3,7 juta kredit karbon per tahun.

Sementara itu, produk bio-CNG dari proyek ini akan dibeli dengan kontrak jangka panjang oleh PT Unilever Oleochemical Indonesia untuk menggantikan bahan bakar fosil. Unilever akan menjadi yang pertama di Indonesia maupun Asia yang menggunakan bio-CNG untuk menggantikan bahan bakar fosil dalam skala besar.

Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal EBTKE, Kementerian ESDM Edi Wibowo mengatakan, pengembangan proyek bio-CNG dengan memanfaatkan limbah industri kelapa sawit tentunya akan membantu industri perkebunan atau pabrik kelapa sawit dalam mengurangi emisi karbon, mengatasi masalah limbah, serta membantu industri terdekat untuk lebih memanfaatkan energi terbarukan sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan dekarbonisasi.

"Kami berharap proyek yang ditandai dengan ground breaking ceremony hari ini yang bertepatan dengan hari pertambangan dan energi nasional dengan tagline energi bangkit lebih kuat, akan berjalan dengan lancar dan memberikan kontribusi signifikan dalam mendukung transisi energi di Indonesia, guna mendukung percepatan pencapaian target bauran energi terbarukan 23 persen pada tahun 2025 dan net zero emission tahun 2060," ujarnya.

Managing Director Unilever Oleochemical Saikrisna Devarakonda menuturkan, penggunaan bio-CNG ini merupakan bagian dari komitmen Unilever untuk melakukan dekarbonisasi pada operasinya.

"Kami melihat yang akan menjadi kontributor terbesar di masa depan untuk dekarbonisasi operasi di Sei Mangkai, salah satu manufaktur site terbesar untuk Unilever, adalah bio-CNG," ujar Saikrisna.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sawit energi hijau energi terbarukan
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top