Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pakar Maritim Soroti Kapal Domestik di Laut Internasional

Pakar maritim menyoroti posisi kapal domestik di laut internasional
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 24 September 2022  |  04:30 WIB
Pakar Maritim Soroti Kapal Domestik di Laut Internasional
Kapal memuat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok. - Antara / Fanny Octavianus
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kekuatan maritim domestik Indonesia masih belum seimbang dengan kekuatan kapal berbendera Merah Putih di perairan internasional.

Pakar Maritim dari ITS Saut Gurning menyoroti perbandingan mencolok antara kuatnya arus domestik dibandingkan dengan pergerakan kapal internasional. Kekuatan jumlah kapal internasional, sebutnya, masih mendominasi pergerakan dan kelancaran arus barang lewat laut.

"Bukanlah bendera Merah Putih yang berkibar dominan di kapal kapal pengangkut kargo eksportasi. Apalagi kargo importasi kita. Perbandingannya masih sangat miris 90 banding 10," ujarnya, Jumat (23/9/2022).

Saut menyebut wilayah operasi layanan kapal berbendera merah putih masih berjarak pendek atau short-haul. Jarak tersebut berupa rute feeder yang mengumpan dan memberi alias tergantung ke noda Singapura, dab Malaysia di Asean.

"Pekerjaan rumah ke depan adalah membangun kekuatan plus keandalan Merah Putih untuk jarak pendek, menengah atau intra Asia, dan jarak jauh atau antar benua harus mulai dipikirkan insan maritim Indonesia," imbuhnya.

Bung Karno, sebutnya, benar dan pernah berpikir, kejayaan maritim Indonesia tergantung jenis pesawatnya. Aspek ini pun telah tuntaskan untuk orientasi domestik. Namun, belum untuk orientasi luar negeri. Tidak mudah dan tidak murah, serta tidak bisa apa adanya memang, untuk masuk ke jalur, wilayah dan pasar internasional. Banyak faktor yg perlu diperhatikan secara kolektif.

Pertama, terkait dengan kekuatan perencanaan kapal dan keandalan operasinya dalam memenuhi standar internasional. Kemudian, kemampuan konsolidasi logistik maritim. Selanjutnya adalah keandalan dan kompetensi SDM maritim paling tidak pelaut dan perekayasa. Belum lagi, sokongan dunia perbankan dan finansial maritim. Disusul kekuatan galangan kapal, dan industri komponen kapal, hingga dukungan kebijakan yang konsisten pro pada industri maritim.

Faktor dukungan, terutama, dia berpendapat, sangat penting. Pasalnya tidak ada negara maritim yang kuat utamanya kapal pelabuhan dan konsolidasi ekspedisi muatan kapal lautnya jika tidak disokong oleh pemerintah.

Negara maritim fulcrum global yang notabene ada di Asia, katakanlah China, Korsel, Jepang, Hongkong, Taiwan, Filipina, dan utamanya negara tetangga Singapura adalah negara dengan konsisten dukungan fiskal, pendidikan, industri galangan kapal, pelabuhan, perbankan maritim, asuransi maritim, logistik maritim termasuk bunkering dan sistem teknologi informasi maritim yang didukung oleh pemerintah.

"Apa yg dilakukan Kemenkomarves mungkin baik, paling tidak mulai mengidentifikasi kekuatan kluster ekonomi maritim apa yg menjadi prioritas bagi Indonesia pada masa mendekat," jelasnya.

Dia mencontohkan apabila Singapura fokus pada industri pelabuhan, galangan dan pelayaran. Vietnam juga demikian, termasuk mungkin Malaysia. Filipina, cenderung fokus pada kekuatan dan kompetensi pelautnya yang memang telah tersohor di dunia. Sementara untuk China dan Korsel, yang dalam 1-2 dekade ini mulai bergerak dari industri berat maritim mulai beralih industri jasa maritim, yang memberikan nilai tambah dan dampak ekonomi lebih bernilai tinggi.

Misalnya,Shanghai, Tianjin, Dalian, dan Pusan, telah bertransformasi menjadi kluster keuangan maritim Asia dan global. Kawasan tersebut mulai menandingi London, Kopenhagen, dan Yunani yang selama ini akhirnya memilih industri keuangan maritim dan hanya fokus pafa industri berat maritim yang bernilai tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

maritim kapal
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top