Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Biaya MRT Fase 2A Bengkak Jadi Rp25,3 Triliun, JICA Belum Evaluasi

JICA disebut belum melakukan evaluasi terkait dengan pendanaan biaya MRT Fase 2A yang bengkak menjadi Rp25,3 triliun.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 21 September 2022  |  12:02 WIB
Biaya MRT Fase 2A Bengkak Jadi Rp25,3 Triliun, JICA Belum Evaluasi
Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan MRT Jakarta fase 2A di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta, Minggu (6/6/2021). - Antara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – PT MRT Jakarta menyebut pinjaman dari Japan International Cooperation Agency (JICA) belum mengakomodir biaya proyek Fase 2A yang bengkak hingga Rp25,3 triliun.

Direktur Konstruksi MRT Jakarta Silvia Halim menjelaskan pihak Jepang tidak serta merta menyetujui nilai potensi pembengkakan biaya tersebut karena memiliki prosedur yang bertahap. Dari perhitungan biaya proyek semula senilai Rp22,5 triliun yang sudah ditandatangani adalah pinjaman dengan sekitar Rp8 triliun.

Selanjutnya, pada tahap dua, pihaknya dan JICA baru menyelesaikan evaluasi dan menyepakati untuk pendanaan senilai sekitar Rp10 triliun.

“Jadi saat ini belum ada tanda tangan [JICA] soal pembengkakan biaya ini. Kami akan lihat sesuai kebutuhan dan kemungkinan pada saat mereka datang evaluasi tahap tiga untuk mengetahui apakah memang benar tambahan biayanya segitu [Rp25,3 triliun],” ujarnya, Selasa (20/9/2022).

Pihak JICA, sebutnya, baru akan mengevaluasi kembali pendanaan pada 2024 setelah melakukan staging loan tahap 2 pada November 2022. Pada tahap tersebut, barulah akan diketahui secara pasti jumlah pendanaan termasuk pembengkakan biaya yang harus diakomodir.

Terkait dengan pendanaan alternatif di luar JICA, Silvi menyebut ada kemungkinan untuk melakukan hal tersebut tetapi mengingat kompleksitasnya, maka opsi tersebut hanya merupakan opsi terakhir.

PT MRT Jakarta membeberkan alasan penyebab bengkaknya biaya pembangunan Fase 2A dari semula Rp22,6 triliun menjadi Rp25,3 triliun, salah satunya akibat krisis cip semikonduktor.

Direktur Operasi dan Pemeliharaan MRT Jakarta Silvia Halim membenarkan adanya penambahan biaya tersebut akibat sejumlah alasan. Pertama estimasi biaya senilai Rp22,6 triliun dilakukan pada 2018 yang kala itu dalam tahap perencanaan jalur Bundaran HI hingga Kampung Badan.

Namun, saat ini, dengan estimasi senilai Rp25,3 trilun adalah yang terbaru dengan mengantisipasi perpindahan jalur dan paket kontrak 201 hingga CP203 sudah terkontrak hingga eskalasi harga pada 2025. Penghitungan terbaru ini juga sudah termasuk biaya kontingensi sebesar 10 persen.

Kedua, lanjutnya, sejak 2018 hingga kini juga telah terjadi kenaikan harga material hingga sebesar 50 persen. Dengan demikian, ada persoalan terkait dengan rantai pasok dan juga krisis semikonduktor atau cip yang cukup tinggi. Pasalnya, pembangunan MRT Jakarta membutuhkan teknologi tinggi dan otomatisasi dengan bahan yang memerlukan cip.

"Jadi kalau ada masalah semikonduktor ini kita berimbas ke pembiayaan dan waktu. Krisis ini bukan hanya mahal tetapi bikin cipnya butuh waktu lama semua rebutan dapet produk material ini berpengaruh," ujarnya, Selasa (20/9/2022).

Kendati ada pembengkakan biaya menjadi Rp25,3 triliun, angka ini barulah estimasi. Perseroan sedang mengupayakan manajemen, efisiensi, dan percepatan untuk kembali melihat harga akhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mrt proyek mrt pt mrt jakarta
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top