Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jelajah Pelabuhan 2022: Kuliner Pantura, Makin Beraneka tapi Kian Sepi

Menu “burung sawah” sajian kuliner pesisir Subang, Jawa Barat merupakan upaya menjaga asa seiring sepinya pengunjung.
Rahmi Yati
Rahmi Yati - Bisnis.com 10 September 2022  |  14:36 WIB
Jelajah Pelabuhan 2022: Kuliner Pantura, Makin Beraneka tapi Kian Sepi
Ragam menu makanan di Warung Saung Makan Ibu Iyet, Subang, Jawa Barat. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Bagikan

Bisnis.com, SUBANG - Ayam, bebek, hingga burung puyuh mungkin sudah tak asing jadi menu makanan di sejumlah warung makan bahkan di rumah sekali pun. Namun, bagaimana dengan burung sawah?


Warung Saung Makan Ibu Iyet yang berlokasi di Jl. Pusakanegara, Subang, Jawa Barat, menyuguhkan menu khas nan unik yakni burung sawah.


Solih Hasbullah (38), pemilik warung makan tersebut mengatakan burung sawah ini adalah burung yang memang hidup dan berkembang biak di sawah, bukan burung hasil ternak yang diberi pakan kimia.


Biasanya, warung Saung Makan Ibu Iyet mendapatkan stok burung sawah dari warga sekitar. Dalam sehari mereka bisa menerima 50-100 ekor burung sawah hasil tangkapan warga.


"Ada warga sekitar kita ini yang memang hidupnya itu [mencari burung sawah]. Mata pencahariannya itu," kata Solih kepada Tim Jelajah Pelabuhan 2022 di Subang, Rabu (7/9/2022).


Menurutnya, menu burung sawah ini merupakan salah satu ciri khas dari warung makan yang sudah berdiri sejak tahun 2000-an. Solih merupakan generasi kedua yang melanjutkan usaha rintisan orangtuanya.


Untuk rasanya sendiri, burung sawah ini tak jauh berbeda dengan olahan unggas lainnya. Namun, warung Saung Makan Ibu Iyet ini punya bumbu rahasia yang diklaim tak dimiliki tempat makan lain.


"Jadi salah satu ciri khas dari warung makan Ibu Iyet ini burung sawah goreng yang nggak ada di tempat lain. Rasanya beda karena kan [makanannya] alami, mereka makannya kan hewan-hewan yang ada di sawah. Kita juga mengolahnya dengan bumbu khas," ucap dia.


Namun begitu, dia mengaku sejak adanya Tol Cipali yang beroperasi sejak 2015, jumlah pengunjungnya mengalami penurunan. Hal itu tentu berdampak ke pendapatan warung.


Sebelumnya, ujar Solih, warung Saung Makan Ibu Iyet bisa meraup pendapatan kurang lebih Rp25 juta per hari. Namun kini, warung yang buka mulai pukul 07.30-21.00 WIB itu hanya memperoleh pemasukan Rp5-Rp7 juta per hari. Bahkan, dia juga terpaksa mengurangi 10 karyawannya.


Dulu, cerita Solih, warungnya bisa menghabiskan sedikitnya satu kuintal beras dalam sehari. Parkiran di depan warung juga dipadati kendaraan pengunjung yang datang tidak hanya dari Jawa Barat, tetapi juga Jawa Tengah hingga Jawa Timur.


"Setelah ada tol otomatis turun drastis walaupun Alhamdulillah kita memang mungkin ada sekitar 30 persen pasar atau pembeli lokal. Jadi kita masih bisa bertahan sampai sekarang," imbuhnya.


Adapun warung Saung Makan Ibu Iyet ini berkonsep prasmanan. Pengunjung dapat memilih sendiri menu makanan yang disukai. Mereka menyajikan beragam lauk seperti ayam, ikan, daging, telur, hingga burung sawah dan lainnya yang diolah dengan cita rasa khas yang kaya akan rempah pedesaan.


Untuk harganya bervariasi, mulai dari Rp15.000 sampai dengan Rp30.000 tergantung menu yang diambil. Burung sawah sendiri dibanderol Rp15.000.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jelajah Jelajah Pelabuhan 2022 pantura jalur pantura kuliner bisnis kuliner jalan tol cipali tol cipali
Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top