Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tolak Kenaikan Harga BBM, Ini Tuntutan Driver Ojek Online

Kenaikan harga BBM dinilai bakal semakin memberatkan pendapatan pengemudi ojek online yang akibat potongan sekitar 20 persen untuk biaya sewa aplikasi.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 04 September 2022  |  16:22 WIB
Tolak Kenaikan Harga BBM, Ini Tuntutan Driver Ojek Online
Pengemudi ojek online mengisi BBM di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jakarta, Selasa (14/4/2020). PT Pertamina (persero) membuat program khusus selama masa darurat pandemi virus corona atau Covid-19 untuk para pengemudi ojol. Pertamina meluncurkan layanan khusus untuk para ojol berupa cashback saldo LinkAja dengan maksimal nilai Rp15.000 per hari, untuk pembelian bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Pertamina melalui aplikasi MyPertamina. Bisnis - Arief Hermawan P
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pengemudi ojek online menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi Pertalite. Kenaikan harga BBM dinilai memperburuk kondisi kerja dan kesejahteraan pengemudi ojol.

Pengemudi ojek online (ojol) yang tergabung dalam Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI) menyatakan penolakan terhadap kenaikan harga BBM subsidi apalagi ketika pendapatan pengemudi tergerus sebesar 20 persen untuk biaya sewa aplikasi. SPAI mengklaim bahkan terdapat beberapa kasus pemotongan lebih dari 20 persen.

"Pemerintah dalam mengambil kebijakan seharusnya melihat kondisi ojol yang saat ini kondisinya terpuruk," kata Ketua SPAI Lily Pujiati dalam keterangan resmi, Minggu (4/9/2022).

Di sisi lain, SPAI menyebut pengemudi ojol tidak mendapatkan jaminan terhadap upah minimum layak, tapi dipaksa bekerja lebih dari 8 jam, tanpa uang lembur.

"Kondisi kerja yang eksploitatif ini semakin berlipat ganda terhadap ojol perempuan karena tidak mendapatkan hak cuti haid, cuti melahirkan, dan lainnya," ujar Lily.

Adanya kenaikan harga BBM, dan berpotensi diikuti oleh harga barang pokok dan lainnya, membuat SPAI kukuh menolak kebijakan pemerintah terkait dengan subsidi bahan bakar.

Kendati pemerintah berencana menyalurkan bantalan sosial, termasuk subsidi transportasi, SPAI menilai dampaknya tidak akan signifikan dalam membendung kenaikan harga barang-barang lainnya.

Untuk itu, para pengemudi ojol meminta pemerintah untuk tetap memberikan subsidi BBM masyarakat, serta menuntut kenaikan tarif ojol di semua layanan pengantaran. Hal tersebut meliputi penumpang, barang dan makanan.

"Juga harus disertai penurunan potongan aplikator menjadi 10 persen. Selain itu pengemudi Ojol ditetapkan sebagai pekerja tetap, bukan mitra, agar hak-hak sebagai pekerja dipenuhi," ujarnya.

Sebelumnya, pemerintah telah memutuskan kenaikan tarif ojol untuk layanan sepeda motor penumpang. Kendati demikian, kenaikan tarif yang tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan No.564/2022 itu saat ini ditunda penerapannya hingga waktu yang tidak ditentukan.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Hendro Sugiatno mengatakan alasan ditundannya kenaikan tarif ojol adalah untuk menunggu keputusan pemerintah terkait dengan harga BBM.

"Kita menunggu perkembangan dan situasi dan masukan. [Pengumuman kenaikan harga BBM] salah satunya," ujar Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Hendro Sugiatno kepada Bisnis, Rabu (31/8/2022).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tarif ojol Pertalite
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top