Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ketegangan Masih Membara, Perusahaan Eropa Tetap Tertarik Berinvestasi di China

Investasi dari Uni Eropa ke China naik 15 persen pada paruh pertama tahun 2022 dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 18 Agustus 2022  |  17:43 WIB
Ketegangan Masih Membara, Perusahaan Eropa Tetap Tertarik Berinvestasi di China
Staf berdiri di dekat bendera Uni Eropa (UE), bersiap-siap sebelum dimulainya pertemuan antara negara-negara UE dengan Parlemen Eropa di Brussels, Belgia, Rabu (8/7/2020). - Bloomberg/Geert Vanden Wijngaert
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai investasi perusahaan-perusahaan Eropa di China cenderung stabil meskipun hubungan politik kedua pihak cenderung memburuk.

Dilansir Bloomberg pada Kamis (18/8/2022), data dari Rhodium Grup mencatat investasi dari Uni Eropa ke China naik 15 persen pada paruh pertama tahun 2022 dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).

Kenaikan ini didorong oleh BMW AG yang membeli kepemilikan saham pengendali di usah patungan produsen mobil di Chin apada kuartal I/2022.

Meskipun investasi ini menunjukkan penurunan baru-baru ini, perusahaan-perusahaan Eropa tidak menarik diri dari China seperti yang dikhawatirkan beberapa orang. Faktanya, meningkatnya ketegangan geopolitik bahkan dapat mendorong bisnis untuk memperluas rantai produksi lokal.

Analis riset Rhodium Group Mark Witzke mengatakan pihaknya belum melihat adanya eksodus besar perusahaan dari Eropa dan sebagian besar masih menyelesaikan proyek yang sudah direncanakan.

“Setidaknya untuk perusahaan Eropa, mayoritas pemain besar yang sudah memiliki kepentingan signifikan di China melanjutkan investasi yang direncanakan, meskipun dengan sejumlah penundaan karena lockdown untuk mengekang infeksi Covid-19,” ungkap Witzke seperti dikutip Bloomberg, Kamis (18/8).

Hubungan antara Eropa dan China telah memburuk selama lebih dari setahun terakhir karena China menolak memberikan sanksi terhadap Rusia atas invasinya ke Ukraina. Risiko meningkatnya ketegangan bertambah setelah perjanjian investasi bilateral dengan Brussel dibekukan tahun lalu.

Selain itu, penerapan lockdown besar-besaran di seluruh China tahun ini menyebabkan kontraksi ekonomi dan berdampak negatif terhadap kinerja bisnis di sana.

Meskipun demikian, ekspor dari Eropa masih bertahan, dengan nilai total pengiriman dalam enam bulan pertama tahun 2022 pada tidak berubah dari tahun lalu meskipun ada penguncian yang ketat di beberapa kota di China.

Pasar China menjadi penyelamat bagi banyak neraca perusahaan asing dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah China mengendalikan infeksi Covid-19 dan dengan cepat membuka kembali ekonomi pada tahun 2020 dan pertumbuhan mencapai 8,1 persen tahun lalu, mengimbangi resesi dan lockdown di negara lain.

Namun, situasi berbalik pada tahun 2022, dengan lockdown di Shanghai dan di kota lain menutup pabrik dan menekan laba sepanjang tahun ini. Namun, banyak perusahaan asing masih percaya bahwa ada lebih banyak keuntungan daripada kerugian dari berbisnis di China.

BMW AG membuka pabrik tambahan bernilai miliaran dolar di Shenyang awal tahun ini, Audi tengah membangun pabrik kendaraan listrik pertamanya di negara itu, dan Airbus SE memperkuat posisinya di pasar China berkat lini perakitan akhir yang membantu meningkatkan pesanan menjadi US$37 miliar bulan lalu.

Sementara itu, data menunjukkan antusiasme Eropa untuk berinvestasi di China tetap relatif kuat dalam beberapa tahun terakhir. Jerman, misalnya, mengarahkan lebih dari 5 persen aset investasi asing ke China pada tahun 2020, menurut data Bundesbank.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china ekonomi china uni eropa eropa investasi
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top