Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kadin Proyeksi Surplus Perdagangan Bisa Turun pada Semester II/2022

Kadin Indonesia memperkirakan kinerja perdagangan RI pada semester II/2022 tidak akan sekuat periode sebelumnya karena tren penurunan harga komoditas.
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 15 Agustus 2022  |  02:41 WIB
Kadin Proyeksi Surplus Perdagangan Bisa Turun pada Semester II/2022
Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani (tengah) berbincang dengan Managing Director for Trading and Downstream PT Triputra Agro Persada Sutedjo Halim (dari kiri), Wakil Ketua Umum Kadin bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani, Presdir PT Riau Andalan Pulp and Paper Sihol P Aritonang, dan Ketua IPB Sustainable Development Goal (SDGs) Network Bayu Krisnamurthi, di Jakarta, Senin (11/3/2019). - Bisnis/Endang Muchtar
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kamar Dagang Indonesia dan Industri (Kadin) Indonesia memproyeksikan kinerja perdagangan Indonesia pada semester II/2022 bakal menurun walau tak signifikan. Namun demikian, volume ekspor diperkirakan tak akan turun sehingga tidak akan menyebabkan defisit perdagangan yang lebih tinggi dalam waktu dekat.

Pada semester I/2022, neraca perdagangan Indonesia tercatat mengalami surplus sebesar US$24,94 miliar yang terdiri dari surplus nonmigas US$36,63 miliar dan defisit migas US$11,68 Miliar. Surplus neraca perdagangan tersebut didorong oleh peningkatan ekspor pada semester I/2022 sebesar 37,17 persen secara year on year (YoY).

Wakil Ketua Bidang Hubungan Internasional (Kadin) Shinta W. Kamdani mengatakan pemerintah perlu meningkatkan kinerja ekspor riil baik ekspor komoditas maupun ekspor produk yang bernilai tambah untuk mengimbangi harga komoditas yang mulai turun.

Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti meningkatkan simplifikasi ekspor dan memperluas pendanaan ekspor yang terjangkau. Adapun pemerintah menargetkan kinerja neraca perdagangan tahun 2022 akan mengalami surplus sebesar US$31,7 miliar.

“Selain itu bisa mendiseminasikan trade intelligence dari negara tujuan ekspor kepada eksportir, hingga membantu pengadaan trade logistics dan trade insurance yang affordable, khususnya untuk ekspor ke negara-negara nontradisional,” ujar Shinta saat dihubungi, Minggu (14/8/2022).

Shinta memprediksi harga komoditas memang akan terkoreksi turun, tetapi kemungkinan besar tidak akan kembali ke level prapandemi, setidaknya selama konflik di Ukraina masih terjadi.

Menurut laporan IMF (WEO, July 2022), harga komoditas baik harga energi maupun nonenergi diperkirakan mengalami penurunan pada 2023 masing-masing sebesar 12,3 persen dan 3,5 persen. Sementara menurut proyeksi harga beberapa komoditi oleh Tradingeconomics, sepanjang kuartal III/2022 sampai dengan kuartal II/2023, beberapa harga komoditas akan mengalami penurunan a.l. adalah harga perak (tren penurunan 1,95 persen), tembaga (turun 2,22 persen), baja (turun 2,26 persen), minyak sawit (turun 3,99 persen), kakao (turun 2,2 persen), aluminium (turun 2,49 persen), timah (turun 3,04 persen), dan karet (turun 1,54 persen).

Test case sebetulnya nanti akan terjadi di kuartal IV/2022 ketika ekonomi besar di belahan utara seperti UE dan AS memasuki musim dingin sehingga menyebabkan permintaan terhadap energi dan pangan kembali meningkat sementara pasokannyanya belum tentu cukup sehingga berpotensi kembali mendongkrak harga komoditas global lagi,” jelas Shinta.

Selain itu, kata Shinta, dengan kondisi pasar global yang masih penuh ketidakpastian dan pasar domestik yang dihantui oleh inflasi tinggi, kinerja impor dalam jangka pendek kemungkinan besar hanya akan mengalami pertumbuhan yang moderat.

“Karena itu, kami proyeksikan yang lebih mungkin terjadi adalah penurunan surplus perdagangan,” ucap Shinta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kadin ekspor
Editor : Dwi Nicken Tari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top