Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Mi Instan Bakal Naik 3 Kali Lipat, Mentan Ungkap Penyebabnya

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menjelaskan penyabab harga mie instan di dalam negeri berpotensi naik hingga 3 kali lipat.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 10 Agustus 2022  |  07:57 WIB
Harga Mi Instan Bakal Naik 3 Kali Lipat, Mentan Ungkap Penyebabnya
Petugas sedang menurunkan karton produk mi instan Indomie. Mi instan merupakan salah satu produk unggulan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. - indofood.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan harga mi instan di dalam negeri berpotensi naik hingga 3 kali lipat seiring dengan tingginya harga gandum dunia yang disebabkan perang Rusia-Ukraina.

Mentan Syahrul mengatakan keadaan pangan di dunia saat ini sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Pasalnya, banyak faktor yang mempengaruhi kondisi di sektor pangan.

Dia menuturkan, setelah adanya turbulensi di dunia akibat serangan Covid-19, dunia masih harus menghadapi kondisi perubahan iklim global yang menyebabkan tidak menentunya cuaca yang sangat berpengaruh terhadap sektor pangan.

Belum selesai dengan itu, perang antara Rusia dan Ukraina telah menyebabkan melonjaknya harga gandum, mengingat kedua negara tersebut menjadi salah satu lumbung gandum terbesar di dunia.

"Jadi hati-hati yang makan mi banyak, dari mi banyak dari gandum besok harganya 3 kali lipat itu, maafkan saya bicara ekstrem saja ini, ada gandumnya tapi harganya akan mahal banget. Sementara kita impor terus mi gitu loh," kata Syahrul dikutip dari Youtube Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Selasa (9/8/2022),

Dia menuturkan, perang Rusia-Ukraina telah menyebabkan kendala konektivitas yang besar terhadap komoditas gandum dan juga pupuk.

Menurutnya, harga pupuk telah terkerek hingga 5 kali lipat dari harga normalnya karena pasokannya terhambat dari kedua negara tersebut yang juga merupakan pemasok bahan baku pupuk terbesar.

Syahrul mengungkapkan 13 juta orang di dunia tengah menghadapi ancaman kelaparan dan sebanyak 62 negara tengah menuju kondisi krisis pangan akibat kondisi-kondisi yang menekan sektor pangan tersebut.

"Oleh karena itu ada 2 krisis yang segera di hadapi dunia adalah krisis energi dan krisis pangan," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mi instan mentan gandum
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top