Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Infrastuktur Jadi Masalah Produktivitas Industri Gula Nasional

Masalah infrastruktur menjadi soal penting dalam meningkatkan produktivitas industri gula Tanah Air.
Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina - Bisnis.com 07 Agustus 2022  |  22:50 WIB
Infrastuktur Jadi Masalah Produktivitas Industri Gula Nasional
Buruh mengangkat gula rafinasi ke lambung kapal di Pelabuhan Paotere, Makassar, Sulawesi Selatan. - Foto ANTARA
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Perlu upaya memperbaiki infrastruktur untuk meningkatkan produktivitas industri gula nasional. Produksi gula di PT Rejoso Manis Indo (RMI) di Blitar, Jawa Timur, misalnya, dapat lebih baik dengan perbaikan infrastruktur jalan.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menyampaikan setidaknya dengan penyelesaian masalah infrastuktur jalan, RMI dapat meningkatkan produktivitas hingga 2,5 kali bahkan lebih.

“PT RMI memiliki potensi untuk bisa dikembangkan lagi produksinya hingga 2,5 kali. Apalagi, nanti kalau didukung dengan infrastruktur jalan yang lebih bagus. Saat ini, per hari ada 1.200 truk, dan kalau kualitas jalan lebih baik lagi, truk bisa mengangkut dua kali lebih banyak,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (7/8/2022).

Pada 2022, PT RMI mendapat pasokan tebu dengan luasan panen seluas 15.080 hektare (ha) dan potensi produksi sebesar 93.661 ton. Bila dibandingkan dengan tahun lalu, luas area panen meningkat dari 13.721 ha dan produksi GKP sebesar 67.677 ton.

PT RMI saat ini memiliki kapasitas giling 10.000 ton tebu per hari (TCD) dan dapat diperluas menjadi 20.000 TCD dan kapasitas produksi sebesar 1.500 ton per hari (TPD) dengan menggunakan teknologi Defekasi Remelt Karbonatasi (DRK).

Sementara itu Wakil Direktur Utama PT RMI Syukur Iwantoro membenarkan bahwa sarana prasarana seperti jalan menjadi salah satu penunjang utama untuk peningkatan produksi industri gula.

“Terkait jumlah produksi, permasalahannya bukan di mesin, tetapi lebih karena terkendala infrastruktur jalan. Oleh karenanya, pengembangan jalan bagi industri gula ini memang perlu ditingkatkan menjadi kelas satu,” jelasnya.

Dia menilai bahwa masalah infrastruktur jalan sangat urgen dan mendesak. Sebab hal tersebut terkait dengan mobilitas petani dan keberlangsungan pabrik untuk bisa mencapai kapasitas maksimal.

“Dengan kelas jalan yang tidak memadai, yang merasa terhambat tidak hanya perusahaan, tetapi juga petani merasa dirugikan. Karena yang seharusnya satu kali angkut dengan fuso truk gandeng, harus dua sampai tiga kali angkut. Artinya, ada tambahan biaya petani,” tandasnya.

Syukur menambahkan, potensi lahan yang ada di Blitar masih banyak, belum lagi yang berada di daerah sekitarnya. Tahun pertama dan kedua, produksi RMI dapat mencapai 6.500 ton tebu perhari, dan tahun ini sudah mencapai 9.000-10.000 ribu ton tebu per hari.

“Produksi gula di Blitar menyumbang stok nasional hingga 100.000 ton. Tingginya stok ini karena lahan tebu yang ada semakin luas,” sebutnya.

Sebelumnya Kemenperin mencatat masih terdapat gap kebutuhan gula sekitar 850.000 ton untuk gula konsumsi dan 3,27 juta ton untuk gula rafinasi.

Artinya, melalui perbaikan jalan yang akan mendukung produktivitas pabrik gula turut menekan kesenjangan kebutuhan gula konsumsi di tahun ini dan tahun selanjutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri gula gula pabrik gula gula rafinasi produksi gula
Editor : Reni Lestari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top