Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Top 5 News Bisnisindonesia.id: Konflik China-Taiwan hingga Setrum Kendaraan Niaga Listrik

Indonesia tengah ditantang oleh perubahan geopolitik Asia Pasifik yang kian keras dan memanas yang dipicu konflik militer terbuka antara China dan Taiwan.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 05 Agustus 2022  |  07:17 WIB
Top 5 News Bisnisindonesia.id: Konflik China-Taiwan hingga Setrum Kendaraan Niaga Listrik
Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengunjungi parlemen di Taipei, Taiwan (3/8/2022). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA—Indonesia tengah ditantang oleh perubahan geopolitik Asia Pasifik yang kian keras dan memanas. Pemicunya adalah bara konflik militer terbuka antara China dan Taiwan.

Permusuhan di antara kedua negara ‘sepersusuan’ itu belakangan tambah gaduh akibat ‘provokasi disengaja’ oleh Amerika Serikat. Pada Selasa (2/8/2022), Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS Nancy Pelosi mengunjungi Taiwan. Isu tersebut menjadi salah berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Namun, beragam kabar ekonomi dan bisnis juga disajikan yang dikemas secara mendalam dan analitik di meja redaksi BisnisIndonesia.id:

Berikut highlight Bisnisindonesia.id, Kamis (5/8/2022):

1.Indonesia di Tengah Pusaran Konflik China-Taiwan

Rasa kesal China atas provokasi para pejabat Paman Sam melalui kunjungan Pelosi ke Taiwan tentu sangat dapat diterima akal sehat. China bahkan sempat melontarkan ancaman akan memusnahkan pesawat yang ditumpangi politisi dari Partai Demokrat itu. 

Namun, hal itu urung dilakukan karena bagi China, membunuh Pelosi tidak bernilai strategis dan sangat tidak penting. China kemungkinan benar-benar akan menginvasi Taiwan apabila negeri kecil tersebut detik ini juga mengikrarkan kemerdekaannya secara sepihak. Situasi politiknya tentu akan sangat jauh berbeda.

Sekiranya perang China-Taiwan meletus, mungkin masih terlalu dini memprediksi hal tersebut. Sesuatu yang pasti terjadi dalam jangka pendek ini justru penjatuhan sanksi China kepada Taiwan di sektor perdagangan.

Kemurkaan Beijing diperlihatkan dengan cara menghentikan impor sejumlah komoditas dari Taiwan seperti jeruk, kerang, ikan beku makarel, gula, biskuit, hingga roti. Alasan penghentian tersebut tampak sangat dibuat-buat, yaitu adanya residu pestisida di produk-produk pertanian & perikanan Taiwan sejak tahun lalu. 

2. Ekspansi Penuh Perhitungan, Emiten Andalkan Modal Sendiri

Momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif baik pada awal tahun ini tampaknya membangkitkan rasa optimisme di kalangan emiten untuk memacu kinerjanya melalui ekspansi strategis. Namun, sejumlah emiten tampaknya memilih sangat berhati-hati dalam ekspansi ini.

Kehati-hatian ini tampaknya sangat beralasan di tengah bayang-bayang risiko bisnis yang makin nyata akhir-akhir ini, seiring dengan terganggunya rantai pasok komoditas global, kenaikan inflasi, dan pengatatan kebijakan suku bunga global.

Langkah yang penuh perhitungan ini tecermin dari keputusan sejumlah emiten yang memilih untuk melakukan pendanaan internal dalam rangka membiayai ekspansi lini usaha dalam satu grup. Hal ini juga mencerminkan kuatnya kemampuan finansial emiten tersebut.

Sejumlah emiten seperti PT HM Samperna Tbk. (HMSP), PT United Tractors Tbk. (UNTR), PT Indika Energy Tbk. (INDY), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk., dan PT Smartfren Telekom Tbk. (FREN), melakukan transaksi afiliasi dalam jumlah besar.

3. Makin Gemar Utang Pinjol, Setoran Pajak dari Cuan Lender Menebal

Tren pertumbuhan kinerja industri teknologi finansial atau fintech masih dipertahankan hingga paruh tahun 2022. Utang masyarakat melalui pinjaman online atau peer-to-peer (P2P) lending semakin besar. 

Berdasarkan data statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada periode Juni 2022, penyaluran bulanan mencapai Rp20,67 triliun, tercatat tumbuh 39,73 persen (year-on-year/yoy) dan dalam tren terus meningkat sejak awal 2022, walaupun lebih rendah ketimbang penyaluran Maret 2022 senilai Rp23 triliun.

Nominal outstanding atau sisa utang para peminjam per Juni 2022 pun tercatat mencapai Rp44,34 triliun. Angaka tersebut tumbuh hingga 89,67 persen yoy dari outstanding per Juni 2021 senilai Rp23,38 triliun. Bahkan, nominal outstanding dalam tren belum pernah turun sama sekali.

4. Akselerasi Panas Bumi Butuh Sinergitas dan Kolaborasi

Pengembangan dan pemanfaatan panas bumi di Indonesia masih terbilang sangat rendah meskipun potensi cadangannya lebih besar dibandingkan dengan sumber energi baru dan terbarukan (EBT) lainnya.

Kalau mengutip kajian Think Geo Energy pada 2020, Indonesia menempati posisi kedua dengan sumber daya panas bumi terbesar di dunia, dengan potensi yang mencapai 23,76 gigawatt (GW). Hanya saja, kapasitas listrik yang terpasang dari panas bumi diketahui baru sekitar 2.175 MW.

Sementara itu, Amerika Serikat menjadi negara dengan sumber daya panas bumi terbanyak, dengan potensi mencapai 30 GW. Pemilik sumber daya geothermal lainnya adalah Filipina 4 GW, Turki 4,50 GW, dan Selandia Baru 3,65 GW.

 5. Setrum Kendaraan Niaga Listrik Mulai Menjalar

Elektrifikasi di segmen kendaraan komersial menjadi salah satu kunci penting pencapaian target penurunan emisi rumah kaca. Salah satu alasannya adalah karakter armada yang rakus bahan bakar dan intens menempuh perjalanan panjang.

Populasi kendaraan niaga, mencakup bus, pikap, truk, dan kabin ganda, sejatinya jauh lebih sedikit ketimbang mobil penumpang (pribadi). Hanya sekitar seperempat dari total kendaraan bermotor beroda empat atau lebih.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), populasi kendaraan bermotor mobil per Desember 2021 tercatat sebanyak 22.335.951 unit. Dari jumlah tersebut, kendaraan niaga hanya 5.640.939 unit atau sekitar 25,2%.

Akan tetapi, karena fungsi dan karakternya membuat tipe kendaraan ini termasuk rakus mengonsumsi bahan bakar dan menghasilkan emisi gas buang yang tidak kecil. 
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china perang dagang AS vs China taiwan
Editor : Asteria Desi Kartika Sari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top