Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sri Mulyani Sebut Utang Baru Indonesia Turun 56 Persen, Benarkah?

Pada tahun lalu, pemerintah gencar menerbitkan utang untuk memenuhi kebutuhan biaya, di antaranya untuk penanganan pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 01 Agustus 2022  |  08:10 WIB
Sri Mulyani Sebut Utang Baru Indonesia Turun 56 Persen, Benarkah?
Tangkap layar Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam APBN Kita pada 27 Juli 2022. - Bisnis / Anggara Pernando
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah menyatakan bahwa penerbitan pembiayaan melalui utang pada semester I/2022 turun 56,9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), karena terjadi penurunan baik dari instrumen surat berharga negara atau SBN maupun pinjaman.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa hingga 30 Juni 2022, realisasi pembiayaan utang anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) adalah Rp191,9 triliun. Jumlah itu terdiri dari penerbitan SBN senilai Rp182,4 triliun dan pinjaman Rp9,5 triliun.

Penerbitan utang itu ternyata lebih rendah dari catatan semester I/2021, dengan total Rp444,8 triliun. Pada tahun lalu, pemerintah gencar menerbitkan utang untuk memenuhi kebutuhan biaya, di antaranya untuk penanganan pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional.

"Pembiayaan dari sisi penerbitan utang pada semester I/2022 turun tajam 56,9 persen, ini adalah indikator yang sangat baik dari sisi perbaikan kesehatan APBN kita," ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, pekan lalu.

Nilai penerbitan SBN pada semester I/2022 tercatat turun hingga 60,7 persen (YoY), dari sebelumnya yang mencapai Rp464 triliun. Adapun, pelaksanaan pinjaman kondisinya berbanding terbalik, karena pada semester I/2021 catatannya justru negatif Rp19,1 triliun.

Menurut Sri Mulyani, kebijakan penurunan penerbitan utang berpengaruh positif terhadap pergerakan yield yang tetap bertahan baik, dalam situasi guncangan dan pada saat terjadi capital outflow.

"Ini menjadi strategi yang pas pada saat bonds market, atau pasar obligasi dan pasar uang bergejolak karena terjadinya [konflik], guncangan inflasi, dan kenaikan suku bunga global, Indonesia menjaga melalui kesehatan APBN yang makin baik," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

surat utang negara sbn utang sri mulyani apbn
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top