Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Minyak Memanas, Penerimaan Negara Tembus Rp145,5 Triliun

SKK Migas mencatat penerimaan negara dari sektor hulu migas sampai dengan Juni 2022 mencapai US$ 9,7 miliar akibat imbas dari kenaikan harga minyak mentah.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 15 Juli 2022  |  20:03 WIB
Harga Minyak Memanas, Penerimaan Negara Tembus Rp145,5 Triliun
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Meningkatnya harga minyak mentah global telah berimbas positif terhadap penerimaan negara dari sektor hulu migas.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat penerimaan negara dari sektor hulu migas sampai dengan Juni 2022 mencapai US$ 9,7 miliar atau setara Rp145,5 triliun jika mengacu pada kurs Rp15.000 per dolar AS.

“Kami bersyukur di tengah situasi perekonomian nasional yang belum pulih serta masih terkendalanya operasional hulu migas akibat pandemi Covid-19, industri hulu migas tetap mampu memberikan penerimaan negara yang optimal,” ujarnya di Jakarta, Jumat (15/7/2022).

Secara kinerja, realisasi lifting minyak hingga Juni 2022 tercatat sebesar 616.600 barel per hari. Capaian itu tercatat lebih rendah jika dibandingkan dengan target lifting minyak pada APBN 2022 sebesar 704.000 barel per hari.

Sementara itu, realisasi lifting gas bumi sampai dengan semester I/2022 tercatat 5.326 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), jumlah itu tercatat lebih rendah jika dibandingkan dengan target APBN 2022 sebesar 5.800 mmscfd.

Dengan demikian, capaian lifting migas pada semester I/2022 tercatat sebesar 1,57 juta barel setara minyak per hari atau hanya mencapai 90 persen dari target sepanjang tahun ini 1,73 juta boepd.

Dwi mengatakan rendahnya realisasi lifting migas pada periode tersebut disebabkan oleh mundurnya penyelesaian proyek-proyek besar yang diasumsikan menambah capaian produksi tahun ini.

“Contohnya JTB di saat kita menyusun APBN tahun ini, asumsinya JTB akan onstream di 2021, kemudian mundur dan mudah-mudahan akhir Juli dan awal Agustus bisa onstream. Tangguh Train III yang sesungguhnya saat kita menyusun semua di akhir 2021 tapi karena pandemi ini geser,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak penerimaan negara lifting migas skk migas
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top