Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investor Borong Aset Safe Haven, Imbal Hasil Obligasi Global Merosot

Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun turun ke level 2,92 persen, sementara imbal hasil obligasi 10 tahun Australia merosot sebanyak 9 basis poin.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 12 Juli 2022  |  16:26 WIB
Investor Borong Aset Safe Haven, Imbal Hasil Obligasi Global Merosot
Petugas menghitung uang dolar AS di Cash Pooling Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (23/6/2022). ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara turun di hari kedua berturut-turut karena investor mengincar aset safe haven di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadp resesi AS.

Dilansir Bloomberg pada Selasa (12/7/2022), imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun turun ke level 2,92 persen, jauh di bawah level psikologis 3 persen menjelang rilis data tenaga kerja AS yang diantisipasi pada hari Jumat.

Sementara itu, imbal hasil obligasi 10 tahun Australia merosot sebanyak 9 basis poin. Adapun, imbal imbal hasil obligasi acuan Jepang turun untuk hari kedua berturut-turut.

Sentimen risk-off terlihat di pasar lain. Bursa berjangka AS turun bersama dengan bursa saham Asia. Sementara itu, dan euro kini nyaris setara dengan dolar AS untuk pertama kalinya dalam 20 tahun.

Pelemahan imbal hasil yang tajam pekan ini telah mempertahankan pola fluktuasi volatilitas baru-baru ini dalam obligasi di tengah likuiditas yang terbatas. Kenaikan suku bunga Federal Reserve dipandang meningkatkan risiko resesi, yang menghidupkan kembali daya tarik terhadap aset pendapatan tetap.

Analis suku bunga Nomura Holdings Inc. Andrew Ticehurst mengatakan pasar global terlihat khawatir terhadap kenaikan suku bunga the Fed yang agresif, kekurangan pasokan gas Eropa, dan kekhawatiran tindakan Rusia pada pasokan energi yang dapat menyebabkan resesi.

Selain itu, investor juga tengah menantikan musim laporan pendapatan di AS.

"Kami memperkirakan sinyal yang konsisten dari semua kelas aset, dengan ekuitas melemah, spread kredit lebih luas, imbal hasil lebih rendah, dolar Australia lebih rendah dan dolar AS menguat," ungkap Ticehurst seperti dikutip Bloomberg, Selasa (12/7/2022).

Meskipun para ekonom memperkirakan data inflasi AS hari Rabu naik ke level tertinggi baru dalam 40 tahun, investor obligasi menjadi lebih yakin pengetatan agresif the Fed akan membantu mengendalikan harga.

Presiden The Fed Bank of Atlanta Raphael Bostic semalam menegaskan kembali dukungannya untuk kenaikan 75 basis poin dalam pertemuan kebijakan The Fed akhir bulan ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi imbal hasil
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top