Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Didesak Dongkrak Harga TBS dalam 2 Minggu, Ini Segepok Alasan Luhut

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan memberikan beberapa alasan terkait sulitnya mendongkrak harga tandan buah segar (TBS) sawit. Bahkan, Luhut beralasan sawit kini bersaing dengan komoditas biji bunga matahari yang diproduksi Ukraina meskipun negeri tersebut dilanda peperangan.
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 07 Juli 2022  |  17:51 WIB
Didesak Dongkrak Harga TBS dalam 2 Minggu, Ini Segepok Alasan Luhut
Pekerja menimbang buah kelapa sawit di salah satu tempat pengepul kelapa sawit di Jalan Mahir Mahar, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (26/4/2022). Antara - Makna Zaezar

Bisnis.com, JAKARTA- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menjawab desakan Asosiasi Kabupaten Penghasil Sawit Indonesia (AKPSI) yang meminta pemerintah mendongkrak tandan buah segar (TBS) dalam waktu 12 hari. Menurut Luhut, menaikkan harga TBS tidak gampang.

“Tidak perlu emosional melihat ini dan seperti permintaan bupati 2 minggu harus beres, auditnya saja 3 bulan, setelah diaudit kita bisa menata sawit,” kata Luhut dalam Pertemuan Koordinasi AKPSI di Hotel Sahid, Jakarta Pusat, Kamis (7/7/2022).

Luhut mengatakan, harga TBS sangat terkait dengan kondisi pasar global. Dimulai dari negara-negara yang mulai resesi dan juga perang Ukraina dan Rusia berdampak pada harga sawit.

"Memang enggak gampang untuk menaikan harga TBS itu karena kondisi pasar global juga," ujar Luhut.

Apalagi, ujar dia, semakin parah akibat adanya negara-negara seperti Ukraina yang menaikkan penjualan minyak biji bunga matahari. Sehingga permintaan akan minyak sawit jadi menurun dan stabilisasi harga menjadi sulit.

"Selama ini harga minyak di Ukraina, minyak sunflower, biji bunga matahari itu kan sudah lama tak terekspor berapa bulan tuh? 4-5 bulan kan. Sekarang dia turunin pajak dia bawah ekspor pengaruh-lah ke yang lain," tuturnya.

Luhut pun mengaku tak bisa memprediksi kenaikan harga TBS. Dia mengatakan akan melihat perkembangan ekspor minyak biji bunga matahari tersebut. "Nggak bisa ngomong sekarang, kita harus lihat Ukraina, dia kan cadangan sunflowernya gede sekali tuh nggak terekspor kan. Sekarang dibuka, pajaknya dikurangi dia. Maka itu kita harus cari ekuilibrium dan tak gampang," kata dia.

Namun, kata dia, untuk mempercepat kenaikkan harga TBS, pemerintah akan menurunkan pungutan ekspor minyak sawit mentah (CPO). Sebab, jika CPO terserap ekspor otomatis permintaan TBS bakal meningkat. Luhut pun menargetkan dalam 2 minggu ini ekspor CPO akan kembali lancar.

“Nah kita coba 2 minggu dari sekarang pertengahan ekspor mulai lancar. Tidak hanya itu saja, tadi malam saya bicara pada Menteri Keuangan PE [pungutan ekspor]-nya akan kita bawa sampai ke bawah. Kita kasih insentif untuk ekspor. Kalau ekspor tangkinya kosong dia ambil TBS, nanti TBS harganya naik,” ujar Luhut dalam Pertemuan Koordinasi AKPSI di Hotel Sahid, Jakarta Pusat, Kamis (7/7/2022).

Meski demikian, Luhut tidak menjelaskan berapa persen PE-nya akan diturunkan. “Kita tunggu saja,” ucapnya singkat kepada awak media.

Sebelumnya, AKPSI mendesak pemerintah menormalkan harga tandan buah segar (TBS) sawit yang kini merosot tajam. Menurut APKSI, saat ini harga TBS sawit di petani sudah di bawah Rp1.000 per kilogram.

“Meminta kepada pemerintah pusat untuk segera melakukan normalisasi harga TBS sawit, paling lambat 2 minggu ke depan melalui tata kelola ekspor CPO dengan memperhatikan kepentingan perkebunan perusahaan dan pemerintah,” ujar Ketua AKPSI Yulhaidir dalam pertemuan tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top