Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengusaha Pelayaran Degdegan Perang Rusia-Ukraina Tak Kunjung Usai

Perang antara dua negara yang berpotensi berkepanjangan turut diwaspadai oleh para pengusaha kapal. Kenaikan harga minyak, misalnya, bisa mendorong penyesuaian tarif pengapalan atau freight rate.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 29 Juni 2022  |  18:26 WIB
Pengusaha Pelayaran Degdegan Perang Rusia-Ukraina Tak Kunjung Usai
Kapal berlabuh di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA- Perang Rusia-Ukraina dikhawatirkan berdampak pada krisis energi global. Hal tersebut turut diwaspadai oleh pengusaha pelayaran atau pemilik kapal.

Ketua Umum DPP Indonesia National Shipowners Association atau INSA Carmelita Hartoto mengatakan perang antara dua negara yang berpotensi berkepanjangan turut diwaspadai oleh para pengusaha kapal. Kenaikan harga minyak, misalnya, bisa mendorong penyesuaian tarif pengapalan atau freight rate.

"Yang diwaspadai adalah perang Ukraina-Rusia yang berkepanjangan yang berakibat krisis energi global," terangnya, Rabu (29/6/2022).

Kondisi freight rate yang tinggi, lanjut Carmelita, sempat terjadi akibat pandemi Covid-19, blank sailing (kapal tidak berlayar), dan port congestion (sumbatan pelabuhan). Namun, dia mengatakan kondisi tersebut sudah melewati puncaknya.

Carmelita, yang juga merupakan Koordinator Wakil Ketua Umum KADIN (Kamar Dagang dan Industri), menyebut saat ini ongkos pengapalan sudah turun sejalan dengan ketersediaan kontainer yang sudah mencukupi.

"Bukankah sudah tidak terjadi lagi lockdown dan kongesti. Serta banyak operator yang menambah armada untuk menyeimbangkan supply-demand," terangnya.

Bagi sejumlah perusahaan penyedia jasa pengapalan, kondisi freight rate yang tinggi membawa berkah bagi pendapatan perusahaan. PT Samudera Indonesia Tbk. (SMDR) menyebut ongkos pengapalan yang tinggi menjadi peluang untuk meningkatkan pendapatan perusahaan.

Direktur Utama SMDR Bani M. Mulia mengatakan kenaikan freight rate bahkan menjadi salah satu katalisator peningkatan target pendapatan perusahaan 2022, yang awalnya US$700 juta menjadi US$1 miliar.

"Dengan kondisi tersebut menjadi peluang bagi kami. Tarif tinggi ini berkontribusi positif kepada pendapatan/revenue perusahaan," terang Bani, Selasa (28/6/2022).

Di sisi lain, PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk. (HITS) yang bergerak di sektor angkutan cair menyebut belum menaikkan freight rate, di tengah adanya konflik Rusia-Ukraina.

"Kita karena [bergerak di] sektor angkutan cair seperti LNG, crude, metanol, dan semua itu dalam kondisi time charter. Jadi kita belum terasa imbasnya, dan kenaikan tarif kita masih stay belum ada kenaikan," terangnya.

Kendati demikian, Dedi tidak menampik bahwa konflik Rusia-Ukraina yang telah berkecamuk selama kurang lebih empat bulan ini, cukup berimbas kepada seluruh penyedia jasa angkutan pelayaran secara umum.

Pakar maritim dari Institut Teknologi Sepuluh November atau ITS Saut Gurning mengatakan keberlanjutan freight rate yang tinggi sulit diprediksi secara pasti kapan berakhir.

Saut menyebut pengguna jasa (shipper) sudah mulai beradaptasi dengan koreksi harga barang akibat naiknya ongkos pengapalan. Hal tersebut sudah berlangsung sejak 2019-2022.

"Kalau ditanya sampai kapan hal ini terjadi, memang relatif sulit memprediksinya. Karena faktor ketidakpastian semakin terus menguat dan berkembang," terangnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top