Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wabah PMK Jelang Iduladha, Pedagang Hewan Kurban Deg-degan

Pedagang hewan kurban menyampaikan permintaan hewan kurban meningkat meski angkanya tidak signifikan di tengah wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina - Bisnis.com 28 Juni 2022  |  11:43 WIB
Wabah PMK Jelang Iduladha, Pedagang Hewan Kurban Deg-degan
Petugas Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung memasangkan eartag atau tanda pengenal pada telinga hewan ternak sapi yang telah disuntik vaksin untuk pencegahan penyakit mulut dan kuku (PMK) di kandang peternakan sapi di kawasan Babakan Ciparay, Bandung, Jawa Barat, Senin (27/6/2022). Bisnis - Rachman

Bisnis.com, JAKARTA – Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menjangkiti hewan ternak berkuku genap seperti sapi dan kambing mewarnai momen Iduladha tahun ini, 1443 H/2022 M.

Kondisi tersebut membuat terhambatnya lalu lintas ternak dan berkurangnya ketersediaan sapi potong untuk kurban di wilayah yang membutuhkan pasokan yang cukup tinggi seperti Jakarta.

Ketua Jaringan Pemotongan dan Pedagang Daging Indonesia (JAPPDI) Asnawi menyampaikan di dalam kondisi wabah PMK menjelang Iduladha ini, penjualan hewan kurban belum menunjukkan kenaikan yang signifikan.

Bila membandingkan dengan Iduladha tahun lalu saat PPKM berlaku di tengah gelombang Covid-19 varian Delta, tentu permintaan jauh turun. Tahun ini Asnawi melihat tren kenaikan permintaan masih belum dikatakan naik signifikan.

“Ini kan tanda kutip dari isu pangan dunia naik, ada isu PMK, artinya kalau saat ini saya melihat belum ada tanda-tanda kenaikan dari tahun lalu. Ini kan waktu masih sekitar 2 minggu menuju kurban, saat ini ada permintaan, tapi belum dapat dikatakan naik,” ujarnya, Senin (27/6/2022).

Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Nanang Purus Subendro melaporkan adanya kenaikan permintaan hewan kurban dari tahun lalu.

“Saya mendapat laporan dari banyak tempat ini malah permintaan lebih tinggi dari tahun lalu. Tahun lalu ada PPKM, jadi banyak tempat yang tidak mengizinkan melakukan pemotongan. Tahun ini dari sisi minta pembeli masih sangat bagus,” ujar Nanang, Jumat (24/6/2022).

Baik Nanang dan Asnawi menyampaikan bahwa saat ini pasokan lebih dari cukup, tetapi hanya terhambat lalu lintas ternak. Pasalnya ternak dari wilayah yang terpapar dilarang untuk masuk ke wilayah yang hijau atau tidak terpapar PMK.

Sentra terbesar pasokan sapi kurban berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat. Sementara ketiga provinsi tersebut masuk ke dalam lima besar kasus tertinggi, masing-masing 107.837 ekor, 29,917 ekor, dan 42.717 ekor hewan ternak yang terpapar PMK.

Akibatnya, hewan kurban dari wilayah tersebut tidak dapat dikirim ke wilayah yang membutuhkan. Nanang menyampaikan bila tahun lalu sapi kurban dengan harga di bawah Rp22 juta menjadi favorit, tetapi sulit tahun ini untuk mendapatkan sapi yang memenuhi kriteria dengan harga tersebut.

Mengingat, kini pun ada biaya karantina bagi sapi yang akan melakukan perjalanan. Saat ini pun pedagang melaporkan bahwa rata-rata harga sapi kurban tahun ini yang banyak diminati di kisaran Rp24 juta per ekor. 

“Mudah-mudahan ini masih sisa waktu mungkin dua minggu, masih memberikan gambaran yang positif bagi peternak, karena mereka sangat terdampak karena PMK, semoga banyak yang terselamatkan dari momen ini,” tutup Nanang. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hewan kurban idul adha Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top