Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AS Masih Optimistis Ekonominya Hanya Kena 'Pelemahan Tipis-Tipis' Bukan Resesi

Administrasi Joe Biden masih optimistis ekonomi AS tidak akan mengarah ke resesi seiring dengan upaya seperti insentif pajak.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 20 Juni 2022  |  17:39 WIB
AS Masih Optimistis Ekonominya Hanya Kena 'Pelemahan Tipis-Tipis' Bukan Resesi
Presiden Amerika Serikat Joe Biden - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Administrasi Joe Biden meyakini pelemahan ekonomi AS tidak akan mengarah ke resesi seiring dengan upaya seperti insentif pajak guna meredam lonjakan harga.

Direktur Dewan Ekonomi Nasional Brian Deese memproyeksikan perekonomian lebih cerah daripada yang digambarkan oleh Menteri Keuangan Janet Yellen dan Federal Reserve.

Dia juga mengungkapkan harapan pengesahan RUU yang akan menurunkan biaya obat, menawarkan insentif pajak untuk energi dan lainnya yang bertujuan mengurangi tekanan keuangan rumah tangga.

Sementara itu, AS juga mewacanakan pemberlakuan tax holiday untuk bahan bakar yang disebut Yellen layak dipertimbangkan jika bisa membantu konsumen mengatasi inflasi.

"Kita memiliki kekuatan nyata pada perekonomian ini. [Administrasi Biden] berupaya untuk menurunkan inflasi] tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi," ujar Deese dalam program CBS, seperti dilansir Bloomberg pada Senin (20/6/2022).

Berdasarkan prediksi Bloomberg Economics, potensi resesi pada kuartal I/2024 di AS naik hingga 3 banding 4 per Mei. Padahal prediksi pada Maret masih di bawah 20 persen.

Sementara itu, tren suku bunga acuan yang lebih tinggi akan mendorong pengangguran menjadi 4,5 persen, menurut salah satu pejabat the Fed.

Menteri Keuangan Amerika Serikat Janet Yellen mengatakan lonjakan harga barang akan terjadi sepanjang tahun dan bakal melemahkan perekonomian AS.

"Kita telah menghadapi inflasi yang tinggi tahun ini dan itu akan terkunci menjadi inflasi yang lebih tinggi sepanjang tahun ini," ujar Yellen dalam program ABC This Week.

Inflasi AS terakselerasi menjadi 8,6 persen per Mei, menjadi yang tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Angka tersebut akan diyakini akan mendorong Federal Reserve untuk meningkatkan suku bunga acuan ke level tertinggi sejak 1994.

"Saya memperkirakan perekonomian akan melambat. Namun, saya tidak berpikir bahwa resesi tidak bisa dihindari," tambahnya.

Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Loretta Mester mengatakan risiko resesi di AS semakin tinggi. Dia juga memperingatkan butuh beberapa tahun untuk mengembalikan inflasi sesuai target 2 persen.

Kendati dia tidak memprediksikan adanya resesi, Mester mengakui bahwa keterlambatan bank sentral untuk mengatrol suku bunga acuan akan membahayakan perekonomian.

"Risiko resesi naik sebagian karena kebijakan moneter dapat berputar lebih cepat. Pertumbuhan kita memang melambat ke bawah tren dan itu tidak mengapa," ujarnya dalam program CBS Face the Nation pada Minggu.

Sebelumnya, Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan dalam konferensi pers pada Sabtu bahwa dia termasuk yang mendukung kenaikan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin pada Juli jika data ekonomi sesuai dengan perkiraannya.

Dalam wawancara khusus bersama Associated Press yang dikutip Bloomberg, Presiden Biden mengatakan dia diberitahu oleh Menteri Keuangan Janet Yellen bahwa paket bantuan Covid pada 15 bulan lalu berdampak sedikit pada inflasi.

"Anda bisa berdebat apakah itu berdampak kecil pada inflasi. Saya tidak berpikir itu terjadi. Dan sebagian besar ekonom tidak berpikir demikian. Tapi gagasan bahwa itu menyebabkan inflasi aneh," ujarnya

Dia menegaskan bahwa Amerika Serikat ada di posisi yang kuat untuk menghadapi inflasi, meskipun mengakui bahwa rakyatnya sedang terpuruk.

"[Resesi AS] tidak berarti tidak bisa dihindari," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi as Resesi Joe Biden
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top