Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sarana Jaya Ajak BPKH Bangun Rumah DP Nol di Jakarta

Perumda Sarana Jaya mengajak Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) membangun rumah dengan uang muka (DP) nol rupiah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Newswire
Newswire - Bisnis.com 20 Juni 2022  |  17:56 WIB
Sarana Jaya Ajak BPKH Bangun Rumah DP Nol di Jakarta
Bangunan hunian DP Rp0 yang berada di Klapa Village, Jakarta. - Antara\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Perumda Sarana Jaya mengajak Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) berinvestasi untuk membangun rumah dengan uang muka (DP/down payment) nol rupiah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

"Sementara ini untuk hunian terjangkau (DP nol) rumah MBR," kata Direktur Utama Perumda Sarana Jaya Agus Himawan di Jakarta, Senin (20/6/2022).

Sebagai langkah awal, Sarana Jaya dan BPKH melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) sebelum mengikat perjanjian kerja sama kedua pihak untuk potensi investasi pembangunan rumah DP Nol.

Kesepakatan awal itu diteken Agus Himawan bersama Anggota Badan Pelaksana Bidang Penghimpunan, Penempatan, Investasi Langsung dan Investasi Lainya BPKH Iskandar Zulkarnain di lantai dua Menara Bidakara I, Jakarta Selatan.

Agus mengatakan dalam 10 tahun mendatang pihaknya mengupayakan sekitar 15.000 unit pengadaan rumah terjangkau menyasar MBR di sejumlah titik di lima wilayah Jakarta.

Salah satunya, pembangunan 14 menara (tower) rumah terjangkau (DP nol) Sky Halim di Jalan Pusdiklat Depnaker, Makasar, Jakarta Timur di lahan seluas 3,85 hektare.

Dalam kesempatan itu, Sarana Jaya memaparkan untuk Sky Halim, rencananya dibangun hunian DP Nol sebanyak empat menara dengan jumlah sekitar 1.000 unit dan sisanya 10 menara mencapai sekitar 2.400 unit untuk komersial.

Sementara itu, Agus belum memastikan total nilai investasi yang rencananya dikucurkan BPKH karena MoU tersebut baru tahap awal dan akan dikaji kembali melalui analisis masing-masing tim teknis sebelum menjadi perjanjian kerja sama.

Dalam paparannya, Direktur Utama Sarana Jaya itu menjelaskan pihaknya bersinergi dengan pihak lain untuk aspek pembiayaan.

Untuk pembiayaan, lanjut dia, berdasarkan ekuitas perusahaan, penanaman modal daerah (PMD), mencari mitra strategis atau investor hingga penjajakan ke perbankan untuk penerbitan surat berharga.

Dalam setiap proyek, imbuhnya, pihaknya meminta pendampingan dari Kejaksaan Tinggi DKI dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk mitigasi risiko.

Sementara itu, Anggota Badan Pelaksana Bidang Penghimpunan, Penempatan, Investasi Langsung dan Investasi Lainya BPKH Iskandar Zulkarnain mengatakan MoU itu baru kesepakatan awal. Nantinya, tim teknis akan mendalami potensi kerja sama atau investasi yang akan dijajaki.

Pihaknya pun, lanjut dia, akan menginvestasikan pengelolaan keuangan haji untuk proyek dengan prioritas berprinsip syariah, aman, transparan serta risiko yang terukur.

Iskandar menambahkan salah satu poin mitigasi risiko yang dilakukan Sarana Jaya adalah adanya jaminan untuk membeli kembali (buy back) apabila terjadi gagal bayar pembeli hunian.

"Kalau nanti ada gagal bayar kan bisa di-buy back Sarana Jaya sehingga risiko minimal. Kami anggap ini hal mulia karena kami memberikan sarana berupa perumahan bagi masyarakat," kata Iskandar.

Paparan Sarana Jaya menyebutkan, saat ini pembangunan rumah DP nol ada di Nuansa Pondok Kelapa di Jakarta Timur dengan DP nol mencapai 1.260 unit, di antaranya 729 unit terjual, 51 unit dipasarkan dan 480 unit proses konstruksi.

Selain itu, ada juga di Nuansa Cilangkap dengan DP nol mencapai 1.318 unit dengan dua menara masing-masing 868 unit proses konstruksi dan 450 unit proses perizinan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mbr pembangunan sarana jaya rumah bersubsidi bpkh dp nol rupiah

Sumber : Antara

Editor : Fitri Sartina Dewi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top