Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Petani Sawit Dukung Jokowi Lawan Mafia Minyak Goreng, Tapi...

Petani kelapa sawit mendorong Jokowi untuk melawan mafia dan pengusaha sawit yang berusaha mengontrol hulu hingga hilir bisnis kelapa sawit.
Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina - Bisnis.com 17 Mei 2022  |  15:07 WIB
Presiden Jokowi mengecek langsung ketersediaan minyak goreng di sejumlah lokasi pasar dan toko swalayan, di DIY, Minggu (13/3 - 2022) pagi / BPMI Setpres.
Presiden Jokowi mengecek langsung ketersediaan minyak goreng di sejumlah lokasi pasar dan toko swalayan, di DIY, Minggu (13/3 - 2022) pagi / BPMI Setpres.

Bisnis.com, JAKARTA - Petani sawit mendorong Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) tegas melawan mafia minyak goreng dan segelintir pengusaha sawit kelas kakap yang berusaha mengontrol hulu hingga hilir bisnis kelapa sawit.

Hal tersebut disampaikan Organisasi Petani Sawit Indonesia yang tergabung dalam Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Apkasindo Perjuangan, Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Fortasbi), Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (Aspekpir), Perkumpulan Forum Petani Kelapa Sawit Jaya Indonesia (Popsi), Serikat Petani Indonesia (SPI).

Para petani yakin bahwa Jokowi sedang bekerja keras untuk melawan permainan mafia, tapi petani lah yang menjadi korban dari kebijakan tersebut. Kebijakan yang dimaksud ialah larangan ekspor minyak goreng dan CPO.

“Kami semua asosiasi petani sawit, mendukung langkah bapak Presiden untuk melawan mafia minyak goreng dan segelintir pengusaha kakap tersebut. Namun, kebijakan pembatasan ekspor kelapa sawit perlu dihentikan karena petani sawit di daerah tidak kuat lagi menahan permainan harga oleh pabrik-pabrik kelapa sawit atau jejaring dari segelintir pengusaha tersebut,” demikian pernyataan bersama Organisasi Petani Sawit Indonesia dalam  keterangan resmi, Senin (16/5/2022).

Para petani sawit mengaku sudah tidak tahan dengan dampak dari larangan ekspor minyak goreng dan crude palm oil (CPO) yang berlaku sejak 28 April 2022. Pasalnya, kebijakan tersebut membuat harga tandan buah segar (TBS) anjlok hingga 70 persen. 

Laporan dari petani, harga TBS di seluruh Indonesia turun sekitar Rp1.000 - 1.500 per kilogram dari harga sebelum pelarangan, yakni rata-rata Rp3.000 per kilogram. Sudah jatuh tertimpa tangga, penderitaan petani ditambah dengan banyaknya pabrik kelapa sawit yang tutup dengan alasan tangki-tangki penampungan CPO penuh sehingga petani tidak bisa menjual TBS.

Hari ini pun, Selasa (17/5/2022), Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) telah menggelar Aksi Keprihatinan atas anjloknya harga TBS di depan kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian dan di Patung Kuda Monas.

Harga TBS hari ini menurut laporan Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat Manurung telah jatuh dibawah Rp1.000 per kilogram. 

“Harga TBS sekarang mulai Rp600 hingga Rp1.200 per kilogram, harusnya sudah mencapai Rp4.500 per kilogram. Di Malaysia sekarang harga TBS sudah Rp6.500 per kilogram di petani,” lapor Gulat saat memberikan keterangannya setelah keluar dari gedung Kemenko Ekon, Selasa (17/5/2022).

Dalam aksi tersebut, para petani sawit meminta pemerintah untuk tegas dan memastikan tata kelola minyak goreng dari hulu ke hilir agar tidak diambil alih oleh para pengusaha sawit. Aturan domestic market obligation (DMO) sudah dinilai baik namun perlu pengawasan yang ketat serta komitmen dari perusahaan agar ketersediaan bahan baku terjamin. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi cpo sawit minyak sawit minyak goreng
Editor : Fitri Sartina Dewi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top