Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

CPO Lama Jadi Anak Emas, Komoditas Lain Tak Sanggup Ganti Peran Ekspor Sawit dalam Sekejap

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor minyak sawit mentah (CPO) berkontribusi sebesar Rp112,82 triliun bagi perekonomian Indonesia sepanjang kuartal I/2022.
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 12 Mei 2022  |  18:20 WIB
Pekerja mengumpulkan buah kelapa sawit di salah satu tempat pengepul kelapa sawit di Jalan Mahir Mahar, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (26/4/2022). Antara - Makna Zaezar
Pekerja mengumpulkan buah kelapa sawit di salah satu tempat pengepul kelapa sawit di Jalan Mahir Mahar, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (26/4/2022). Antara - Makna Zaezar

Bisnis.com, JAKARTA-Komoditas perkebunan lain dinilai masih sulit untuk menggantikan sawit sebagai andalan komoditi ekspor saat ini. Karena itu, kebijakan pelarangan ekspor berpotensi menggerus kinerja ekspor komoditas Indonesia. 

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor minyak sawit mentah (CPO) berkontribusi sebesar Rp112,82 triliun bagi perekonomian Indonesia sepanjang kuartal I/2022.

Direktur Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Muhammad Faisal mengatakan sejatinya Indonesia mempunyai komoditas perkebunan lain selain sawit yang potensial. Sebut saja karet, kopi, kakau dan kopra.

Namun, kata dia, saat ini produktivitasnya amat rendah. “Alokasi pendanaan, terutama APBN sehingga perhatian pada komoditas pada selain sawit itu rendah. Jadi itu membuat, dari sisi produktivitas di luar sawit jadi rendah,”  ujar Faisal kepada Bisnis, Kamis (12/5/2022).

Menurutnya, komoditas-komoditas tersebut saat ini kurang diberi insentif dan justru terbebani oleh pajak yang diterapkan pemerintah seperti pajak pertambahan nilai (PPN) yang kini 11 persen.

“Akhirnya agak susah, dalam waktu dekat untuk mendorong ekspor menggantikan sawit. Mungkin kopi yang memungkinkan untuk bisa jadi andalan di luar sawit. Namun, kurangnya perhatian dan insentif, serta kebijakan seperti pajak pada perkebunan itu menjadi kendalanya,” ungkapnya.

Sementara itu, ekonom Indef Ahmad Heri Firdaus mengatakan pemerintah harus mengkaji ulang terkait eskpor pelarangan CPO yang diberlakukan 28 April kemarin. Pasalnya, kontribusi sawit terhadap neraca perdagangan Indonesia cukup tinggi, yakni rata-rata US$3 miliar per bulan sepanjang 2021.

“Saat ini, dengan pelarangan ekspor banyak petani sawit makin jenuh karena mereka tidak terinsentif,” tuturnya.

Menurut Heri, jika masih terjadi kelangkaan sawit, sebaiknya pemerintah segera melakukan operasi pasar dengan segera melibatkan Bulog.

“Sama kayak beras ketika mahal, ada operasi pasar. Kemudian akhirnya stabil. Ini penting dampaknya ke masyarakat,” ucapnya.

Menurut data Food and Agriculture Organization of United Nation (FAO) pada 2021, ada 10 komoditas perkebunan yang paling banyak diekspor Indonesia. Pertama, minyak sawit sebesar 25,9 juta ton, bungkil sawit 4,8 juta ton, asam lemak, 3,1 juta ton, karet alam kering 2,3 juta ton, minyak inti kelapa sawit 1,7 juta ton, kelapa 890.196 ton, kulit ari gandum 640.051 ton, dan minyak kelapa kopra 578.048 ton.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor komoditas cpo produksi cpo ekspor nonmigas ekspor cpo harga cpo komoditas perkebunan
Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top