Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Populisme Tidak Pernah Baik untuk Ekonomi

Ketika kita memikirkan kata inflasi, pikiran kita langsung tertuju pada kenaikan tingkat harga, Setelah itu, kita menyadari bahwa daya beli kita menurun, bahwa kita semakin miskin. Dalam beberapa bulan terakhir, pandemi dan gangguan supply chain dituding sebagai penyebab utama kenaikan harga.
Carmelo Ferlito
Carmelo Ferlito - Bisnis.com 27 April 2022  |  23:11 WIB
Konsumen melihat stok minyak goreng aneka merek tersedia di etalase pasar swalayan Karanganyar pada Kamis (17/3/2022) -  Solopos.com/Indah Septiyaning Wardani.
Konsumen melihat stok minyak goreng aneka merek tersedia di etalase pasar swalayan Karanganyar pada Kamis (17/3/2022) - Solopos.com/Indah Septiyaning Wardani.

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Indonesia meluncurkan larangan ekspor minyak sawit, menyebutnya sebagai tindakan sementara yang diperlukan untuk memastikan pasokan dan keterjangkauan minyak goreng di pasar domestik.

Namun, beberapa tanggapan kritis perlu diangkat dari sudut pandang teori ekonomi. Kenyataannya, meskipun tindakan itu memiliki tujuan yang baik, tindakan tersebut termasuk dalam kelompok tindakan jangka pendek yang sering dilakukan oleh para politisi dalam upaya menunjukkan bahwa mereka melakukan sesuatu untuk menurunkan harga.

Sayangnya, bagaimanapun, langkah-langkah ini sering menghasilkan efek yang bertentangan dengan niat dan berbahaya bagi perekonomian.

Terdapat satu titik awal yang jelas dan perlu menjadi perhatian: inflasi. Sekarang, pada saat masalah ini diperdebatkan secara luas di seluruh dunia, kita menghadapi pemahaman yang buruk tentang fenomena tersebut dan jika kita tidak memahami penyebab dari fenomena tersebut, kita akan gagal memilih strategi yang tepat untuk mengatasinya.

Ketika kita memikirkan kata inflasi, pikiran kita langsung tertuju pada kenaikan tingkat harga, Setelah itu, kita menyadari bahwa daya beli kita menurun, bahwa kita semakin miskin. Dalam beberapa bulan terakhir, pandemi dan gangguan supply chain dituding sebagai penyebab utama kenaikan harga.

Akan tetapi semua ini dapat menghasilkan harga tinggi untuk barang-barang individual. Mereka tidak dapat menghasilkan kenaikan harga barang secara umum. Mereka dapat menyebabkan naik atau turun sementara dalam tingkat inflasi.

Namun, mereka tidak dapat menghasilkan inflasi terus-menerus karena satu alasan yang sangat sederhana: tidak satu pun dari pelaku yang memiliki mesin cetak yang dapat mengeluarkan kertas-kertas yang kita bawa di saku kita; tidak ada yang secara hukum dapat memberi wewenang kepada bookkeeper untuk membuat entri pada buku besar/buku kas induk yang setara dengan potongan kertas itu” (seperti yang ditulis oleh peraih Nobel Milton Friedman).

Sebagai gantinya, inflasi dalam "arti sebenarnya yang tepat” adalah peningkatan berlebihan dalam jumlah uang, yang kemudian menyebabkan kenaikan harga" (seperti yang ditulis oleh peraih Nobel FA Hayek).

Klarifikasi ini sangat penting, khususnya saat ini ketika otoritas moneter dan politik terus menyalahkan guncangan sisi persediaan (yang ditimbulkan oleh respons Covid-19 seperti perintah tetap di rumah) atas kenaikan harga yang kita alami, tanpa menyebutkan tentang peningkatan jumlah uang beredar jauh di atas laju pertumbuhan output, yang dihasilkan oleh kebijakan yang diterapkan untuk mengatasi akibat yang timbul oleh perintah tinggal di rumah tersebut, yaitu pengeluaran defisit pemerintah dan kebijakan moneter ekspansif.

Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa “kondisi yang diperlukan dan cukup untuk tingkat harga yang terus meningkat adalah bahwa jumlah uang akan meningkat relatif terhadap persediaan barang dan jasa. Hanya hal tersebut yang menjadi sumber inflasi yang bertahan” (Armen A. Alchian ).

Singkatnya, satu-satunya penyebab inflasi adalah terlalu banyak uang yang mengejar barang yang terlalu sedikit.

Fenomena Kompleks

Kenaikan harga yang kita alami sekarang perlu dilihat sebagai fenomena kompleks yang tidak bisa dihentikan dengan batasan harga atau larangan ekspor. Kita memiliki dua masalah utama terkait dengan harga minyak sawit mentah.

Yang pertama adalah pasokan. Turunnya pasokan dari Malaysia dan Indonesia diikuti oleh lockdown berkepanjangan yang diberlakukan di seluruh dunia. Jika pemerintah di seluruh dunia menutup ekonomi, pemasok tidak punya pilihan selain mengurangi kegiatan operasional mereka.

Sekarang setelah ekonomi kembali berjalan, permintaan yang meningkat bertemu dengan pasokan yang berkurang dan ini menciptakan ketegangan harga, yang tidak bisa disebut inflasi.

Hanya ada satu cara untuk memungkinkan ketegangan ini diselesaikan dalam periode waktu tertentu: harga tinggi sementara meluncurkan sinyal keuntungan bagi produsen, yang kemudian didorong untuk meningkatkan produksi mereka; dengan pasokan tumbuh untuk memenuhi permintaan, harga bisa menjadi turun.

Oleh karena itu, momen harga tinggi sementara merupakan kondisi yang perlu diterima. Tindakan seperti batasan harga atau larangan ekspor, sebaliknya menciptakan insentif negatif untuk produksi, menjaga ketegangan harga yang berlangsung untuk waktu yang lebih lama dan karenanya mempertahankan harga di sisi yang tinggi, merugikan konsumen.

Poin kedua, yang menciptakan risiko inflasi tinggi yang permanen, justru adalah jumlah uang beredar. Semua pemerintah meningkatkan pengeluaran mereka secara signifikan pada saat tidak ada kenaikan pajak untuk membiayainya.

Hasilnya adalah persyaratan pinjaman yang meningkat yang dipilih oleh banyak negara untuk didukung dengan meningkatkan persediaan uang (M). Sementara itu, kebijakan stay at home, lockdown, dan kebijakan pelarangan memperlambat kecepatan (V) peredaran uang.

Inflasi yang terjadi saat ini disebabkan oleh ekspansi permintaan moneter yang berlebihan yang dimulai pada tahun 2020. Berapa lama inflasi yang sekarang lebih tinggi dari target akan berlanjut? Jawabannya sederhana. Selama pertumbuhan permintaan moneter lebih cepat daripada pertumbuhan output, sehingga menyebabkan tingkat harga rata-rata menyesuaikan ke atas.

Kita tidak boleh bingung antara perubahan harga relatif yang terjadi sepanjang waktu dengan penyebab perubahan tingkat harga rata-rata.

Tidak menyadari hal ini akan menghambat kemampuan untuk mengidentifikasi penyebab inflasi dengan tepat dan, oleh karena itu, untuk mengatasinya. Tak perlu dikatakan bahwa pembuat kebijakan cukup enggan untuk menerima tanggung jawab atas menghasilkan inflasi, dan memang mereka cenderung memiliki beberapa alasan yang berbeda.

Ketika inflasi tak terkendali, “kita akan melihat keselamatan kita berada dalam penggunaan kekuasaan. Kekuasaan selalu dicari untuk mempromosikan yang baik, tentu saja, tidak pernah yang buruk. Kita dibombardir dengan intensitas yang meningkat tentang permintaan terkait kebijakan pendapatan, kontrol harga dan upah, perencanaan nasional, dan sejenisnya. Masing-masing bertujuan untuk mencapai tujuannya dengan memberlakukan pembatasan baru pada kebebasan individu” (James Buchanan dan Richard Wagner).

Sebaliknya, tindakan terhadap jumlah dari uang harus diambil. Sementara menghentikan pertumbuhan uang, tujuan utamanya haruslah stabilitas nilai uang. Ini berarti pengurangan tingkat pertumbuhan moneter, tetapi ini memerlukan masalah kemauan politik.

Faktanya, tingkat pertumbuhan moneter yang lebih lambat setelah periode inflasi akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan pengangguran yang lebih rendah. Pertumbuhan yang lebih lambat dan pengangguran yang lebih tinggi bukanlah obat untuk inflasi, itu adalah efek samping dari pengobatan yang ingin berhasil. Karena ada efek samping ini, penting untuk memperlambat inflasi secara bertahap tapi pasti.

Cara terbaik untuk melakukannya adalah, jelas, membatasi pengeluaran pemerintah. Dalam hal ini, aturan paling sederhana adalah menegakkan kembali keunggulan dan kelebihan anggaran berimbang, yang pada akhirnya akan menghancurkan kepercayaan tidak sehat akan adanya “free lunches”.

Carmelo Ferlito, Research Advisor Provalindo Nusa, Indonesia, dan CEO Center for Market Education, Malaysia

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi minyak goreng larangan ekspor sawit
Editor : M. Syahran W. Lubis

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top