Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tok! Pemimpin Uni Eropa Dukung Kesepakatan Cabut Impor Gas Rusia

Setelah keputusan terhadap gas Rusia ini, pemimpin negara Uni Eropa akan menghadapi tekanan untuk mencari solusi di tengah kenaikan harga energi yang mencekik rumah tangga.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 27 Maret 2022  |  19:03 WIB
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen saat mengadakan konferensi pers di Brussel, Belgia, pada Senin (21/12/2020). - Bloomberg
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen saat mengadakan konferensi pers di Brussel, Belgia, pada Senin (21/12/2020). - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Pemimpin negara anggota Uni Eropa mendukung upaya melepaskan diri dari ketergantungan impor gas dari Rusia, meskipun akan menghadapi tantangan berat.

Pemimpin negara di Eropa akan menghadapi tekanan untuk mencari solusi di tengah kenaikan harga energi yang mencekik rumah tangga.

"Kami tidak pernah melakukannya. Jadi apa yang kami lakukan hari ini adalah pilihan politik yang dibangun atas dasar sukarela karena ini bukan kontrak pemerintah," kata Presiden Prancis Emmanuel Macron, dilansir Bloomberg pada Jumat (25/3/2022).

Dia menjelaskan bahwa bukan pemerintah yang menandatangani kontrak ini, tetapi perusahaan.

Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan gagasan untuk secara sukarela menggabungkan daya beli dan membeli gas alam di pasar dapat membantu menjaga harga tetap rendah.

Uni Eropa akan mengalihkan dua per tiga impor gasnya dari Rusia setelah invasi Rusia ke Ukraina telah mengubah strategi energi blok itu.

Sebelumnya, dalam perjanjian yang diteken pada Jumat (25/3/2022), Presiden AS Joe Biden dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen sepakat bahwa Eropa akan mendapatkan sekitar 15 miliar meter kubik tambahan pasokan gas alam cair atau LNG hingga akhir tahun ini.

Namun, belum bisa dipastikan dari mana sumber tambahan itu.

Para pemimpin UE sepakat pada Jumat bahwa platform pembelian bersama juga akan terbuka untuk negara-negara Balkan Barat dan tiga mitra terkait, yakni Ukraina, Moldova dan Georgia.

Kesepakatan itu juga membantu memastikan LNG, gas, dan hidrogen dengan harga terjangkau dalam kemitraan dengan pemasok di kawasan Mediterania, Afrika, Timur Tengah, dan AS.

UE berencana untuk mengganti 101,5 miliar meter kubik gas yang dipasok oleh Rusia pada 2022 dengan mencari sumber alternatif, seperti membangun fasilitas energi terbarukan dan meningkatkan keamanan energi.

Blok itu juga harus mencari 50 miliar meter kubik LNG dari pemasok baru. Kemampuan Eropa untuk menambah impor LNG terganjal oleh kapasitas regasifikasi, serta jumlah terminal dan interkonektor yang masih terbatas.

Di bawah strategi energi yang baru, impor dari Rusia akan digantikan oleh energi terbarukan dan efisiensi energi yang lebih besar, serta impor gas pipa dan gas alam cair dari negara lain, menurut komisi tersebut.

Untuk itu, eksekutif UE mengusulkan pembentukan gugus tugas untuk pembelian gas bersama di tingkat serikat pekerja.

"Alih-alih mengalahkan satu sama lain, menaikkan harga, kami akan mengumpulkan permintaan kami," kata Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen pada konferensi pers gabungan.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gas lng Rusia
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top