Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gurih-Gurih Enyoy! Begini Cara Malaysia Amankan Harga Minyak Goreng di Dalam Negeri

Negeri Jiran Malaysia ternyata mengalami tekanan akibat kenaikan harga Crude Palm Oil alias CPO. Pemerintah Malaysia telah mengalokasikan subsidi untuk 720.000 ton minyak goreng.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 10 Maret 2022  |  17:38 WIB
Bendera Malaysia - Istimewa
Bendera Malaysia - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Tidak hanya Indonesia yang tengah gamang terkait dengan persoalan minyak goreng di awal tahun ini. Negeri Jiran Malaysia ternyata mengalami tekanan akibat kenaikan harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil alias CPO.

Bahkan, Kementerian Perkebunan dan Komoditas (MPIC) Malaysia menargetkan subsidi minyak goreng bisa selesai pada akhir tahun ini.

Menteri Perkebunan dan Komoditas Datuk Zuraida Kamaruddin mengatakan rencana itu diajukan setelah diskusi dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Kementerian Perdagangan Dalam Negeri dan Urusan Konsumen selama retret menteri bulan lalu.

Dia mencatat, pemerintah Malaysia telah mengalokasikan subsidi untuk 720.000 ton minyak goreng.

“Kami ingin membantu mereka yang membutuhkan di saat harga minyak sawit mentah sedang tinggi-tingginya,” ujarnya dalam Konferensi Kelapa Sawit & Lauric 2022 di Kuala Lumpur kemarin, seperti dikutip The Malaysian Reserve (9/3/2022).

Perang Rusia-Ukraina adalah salah satu faktor utama dalam lonjakan CPO menjadi RM8.000 per ton minggu lalu.

Dewan Minyak Sawit Malaysia juga memperkirakan bahwa harga minyak nabati akan tetap di atas level RM5.000 per ton setidaknya untuk paruh pertama tahun 2022 (1H22).

Sementara itu, Zuraida juga menyoroti bahwa Malaysia mengekspor lebih dari 25,4 juta metrik ton (MT) kelapa sawit, senilai RM108,5 miliar pada tahun 2021.

Dia mengatakan penurunan jumlah total ekspor 2020 di lebih dari 26,6 juta MT, ini merupakan peningkatan total nilai ekspor yang lebih dari RM73,3 miliar pada 2020, atau sebesar 48.

Namun demikian, katanya ketika Kementerian Keuangan memproyeksikan kisaran perkiraan pertumbuhan ekonomi 5,5% hingga 6,5% pada tahun 2022, ditambah dengan pembukaan kembali ekonomi negara secara bertahap, MPIC optimis dengan hati-hati bahwa angka-angka ini akan meningkat untuk tahun ini.

“Industri minyak sawit telah menghadapi banyak skeptis dan perdebatan. Kami menyadari persepsi industri kelapa sawit dan melakukan yang terbaik untuk mengatasi masalah ini," ujarnya.

“Pada intinya, kementerian melakukan semua inisiatif utama dengan mempertimbangkan visi, misi, dan tujuan kami. Singkatnya, prinsip panduan utama kami adalah memajukan sektor komoditas pertanian Malaysia untuk memastikan kemakmuran bersama di antara masyarakat,” tambahnya.

Mengomentari lebih lanjut, Zuraida mengatakan MPIC telah menegaskan kembali niatnya untuk menerbitkan pernyataan kebijakan yang direvisi, Kebijakan Agrokomoditas Nasional 2021-2030, yang akan berpusat pada lima konsep panduan, yaitu keberlanjutan, teknologi, nilai tambah, inklusivitas, dan distribusi kekayaan.

Sementara itu, Zuraida juga mengakui nota kesepahaman antara Bursa Malaysia Derivatives Bhd (BMD) dan Dewan Sertifikasi Minyak Sawit Malaysia untuk membangun kemitraan yang saling menguntungkan yang mempromosikan praktik berkelanjutan dan bertanggung jawab di antara para pemain minyak sawit di seluruh rantai pasokan.

“Ketika dunia mengadopsi praktik yang sadar lingkungan dan sosial, sangat penting dan penting bagi kami untuk melakukannya karena kami tidak hanya ingin tetap kompetitif tetapi juga memainkan peran kami dalam keberlanjutan," ujarnya.

Bulan Februari lalu, beredar kabar terkait dengan harga minyak goreng di Malaysia yang dipatok 2,5 ringgit atau setara dengan Rp8.500 per liter. Hal tersebut pun dikonfirmasi oleh anggota Komisi VI DPR RI kepada Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi.

Lutfi mengatakan harga murah di negara produsen minyak sawit terbesar kedua itu tidak lepas dari subsidi yang digelontorkan oleh pemerintah setempat.

"Sejak 2016 ada satu kebijakan dan ini memang biasa di Malaysia. Mereka memberikan subsidi langsung ke masyarakat. Mereka mensubsidi sekitar 60.000 kilogram atau 60 juta liter per bulan dengan harga 2,5 ringgit. Jadi pemerintahnya yang mensubsidi," kata Lutfi dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Senin (31/1/2022).

Tanpa subsidi, menurut Lutfi, harga pasaran minyak goreng sawit di Malaysia cenderung lebih mahal daripada di Indonesia. Dia mencatat harga normal minyak goreng di Malaysia berkisar 6,7 ringgit atau sekitar Rp20.000 per liter dan Rp22.000 per kilogram.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sawit malaysia minyak goreng
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top