Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indef: Pemerintah Harus Respon Cepat Persaingan Tekstil dengan Bangladesh  

Kerja sama dengan Bangladesh dirisaukan akan menghantam industri tekstil. Pasalnya, negeri itu memiliki standar upah pekerja yang lebih murah dibandingkan Indonesia, selain faktor produksi lainnya.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 08 Maret 2022  |  17:23 WIB
Indef: Pemerintah Harus Respon Cepat Persaingan Tekstil dengan Bangladesh  
Pekerja menyelesaikan produksi celana di salah satu industri tekstil, Kopo, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (21/1 - 2021). /ANTARA
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Persaingan bebas industri tekstil domestik dengan Bangladesh harus direspons dengan cepat oleh pemerintah dengan serangkaian kebijakan untuk menopang daya saing. Hal itu menyusul target penyelesaian Indonesia-Bangladesh Preferential Trade Agreement (IB-PTA) pada tahun ini.

Institute For Development of Economics and Finance (Indef) menggarisbawahi bahwa pasar terbuka adalah sebuah keniscayaan, meski harus didukung dengan level of playing field yang setara agar tak merugikan industri lokal.

Peneliti di Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi Indef Ahmad Heri Firdaus mengatakan agar dapat bersaing, pemerintah hendaknya memberikan insentif untuk mengintervensi struktur biaya produksi sehingga dapat mengejar keunggulan kompetitif tekstil Bangladesh.

"Pemerintah harus merespsn cepat karena ini bukan urusan satu dua sektor. Pemerintah di berbagai kementerian dan lembaga harus segera rapat terbatas dan menghasilkan kebijakan yang menjadikan industri tekstil kita bisa bersaing secara level playing field," kata Heri saat dihubungi Bisnis, Selasa (8/3/2022).

Sejumlah faktor dalam struktur biaya produksi seperti gas industri, listrik, upah pekerja, dan kemudahan logistik harus menjadi pertimbangan pemerintah, baik dalam perundingan perjanjian maupun perumusan insentif.

Heri meyakini industri tekstil akan tetap menjadi salah satu primadona di antara sektor-sektor manufaktur lain. Alih-alih mengalami masa sunset, industri tekstil dapat terus tumbuh jika didukung dengan kebijakan yang menopang kinerja dan pemulihan.

"Kita tidak menutup diri untuk bersaing dengan negara-negara lain, tetapi industri lokal harus diperhatikan," lanjutnya.

Sementara itu, di sisi level of playing field, Indonesia dinilai akan kalah bersaing dengan Bangladesh. Dari harga gas industri misalnya, Bangladesh menerapkan harga US$3,22 per MMBTU untuk pelaku tekstilnya. Selain itu, tarif listrik juga flat sebesar  US$0,105/kWh. Bangladesh juga merupakan eksportir pakaian jadi terbesar kedua di dunia dengan nilai per 2020 sebesar US$36,13 miliar.

Bandingkan dengan harga gas industri di Indonesia yang berkisar US$11-12 per MMBTU, dan tarif listrik tidak flat dengan jam malam lebih mahal. Dari kinerja ekspor, Indonesia menduduki posisi 11 dunia dengan nilai US$6,98 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tekstil Industri Tekstil bangladesh
Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top