Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IKM Tekstil Kekurangan Pekerja di Tengah Banjir Order

Setelah rontok pada 2020, IKM tekstil mulai kebanjiran pesanan. Namun ketersediaan tenaga kerja masih langka.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 08 Maret 2022  |  14:37 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Industri kecil menengah (IKM) tekstil mengalami perbaikan utilitas kapasitas produksi dengan pesanan yang mulai membanjir. Namun sayangnya, hal itu tak diiringi dengan ketersediaan pekerja yang memadai. Maklum saja, pada 2020 terjadi penutupan industri konveksi rumahan hingga mencapai 40 persen.

Nandi Herdiaman, Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Bandung (IPKB) menjelaskan meski order melimpah, kenaikan biaya produksi yang tinggi menjadikan marjin pengrajin tipis yang berdampak pada rendahnya kemampuan menggaji pekerja. Akibat gaji yang rendah tersebut, sulit bagi pelaku IKM tekstil untuk menjaring SDM.

"Makanya sekarang PR-nya sudah mencari SDM, karena kurang diminati untuk jadi penjahit, upahnya minim," kata Nandi dalam konferensi pers online, Selasa (8/3/2022).

Dia melanjutkan, untuk mengurangi ongkos distribusi, dia mendorong pelaku IKM untuk langsung menjual produknya secara online sementara permintaan dari pasar grosir belum sepenuhnya pulih.

Sementara itu, perbaikan permintaan mulai dirasakan pelaku IKM sejak pemberlakuan safeguard garmen sejak tahun lalu. Sebelumnya pemerintah juga telah menelurkan safeguard kain sejak 2020. Instrumen proteksi tersebut diakui mendukung pemulihan industri tekstil dalam negeri.

Di sisi lain, hal yang bertolak belakang dirasakan pengusaha pakaian bayi. Roedy Irawan, Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Pakaian dan Perlengkapan Bayi (P4B) mengatakan produk impor masih membanjiri pasar dalam negeri meski sudah ada safeguard. Hal ini pun menyebabkan produsen pakaian bayi masih terseok-seok dengan permintaan yang belum bergerak dari titik lemah.

Masih maraknya produk impor di segmen tersebut ditengarai karena secara volume, pakaian bayi lebih ringkas daripada pakaian dewasa. Sehingga, jumlah unit terangkut dalam sekali pengapalan jauh lebih besar dan masih dapat menutupi ongkos kontainer yang tinggi maupun bea masuk yang dikenakan.

Roedy berharap pembahasan Indonesia-Bangladesh Preferential Trade Agreement (IB-PTA) juga mempertimbangkan kelangsungan IKM tekstil yang masih dalam masa pemulihan.

"Indonesia adalah market terbesar penjualan tekstil. Angka kelahiran bayi di Indonesia 5-6 juta per tahun. Itu pasar yang besar yang harus dilindungi pemerintah," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ikm tekstil
Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top