Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Walau Ada IA-CEPA, Harga Beli Sapi Kok Makin Mahal?

Kadin menjelaskan implementasi Indonesia Australia - Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) pada impor sapi bakalan dari Australia sifatnya terbatas.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 08 Maret 2022  |  00:50 WIB
Pedagang daging sapi segar melayani konsumen, di Pasar Modern, Serpong, Tangerang Selatan, Senin (2/6/2019). - Bisnis/Endang Muchtar
Pedagang daging sapi segar melayani konsumen, di Pasar Modern, Serpong, Tangerang Selatan, Senin (2/6/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA — Koordinator Wakil Ketua Umum III Kadin bidang Maritim Investasi dan Luar Negeri Shinta W. Kamdani mengatakan implementasi Indonesia Australia - Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) pada impor sapi bakalan dari Australia bersifat terbatas.

Free Trade Agreement pada dasarnya hanya mengurangi sebagian biaya perdagangan, khususnya terkait dengan beban bea masuk, beban perizinan impor, beban karantina atau beban inspeksi perdagangan,” kata Shinta melalui pesan WhatsApp, Senin (7/3/2022).

Shinta menyampaikan harga beli sapi bakalan dari Australia sejak kuartal IV/2021 lalu yang relatif tinggi lebih disebabkan fluktuasi harga komoditas pangan global. Di sisi lain, terjadi penurunan volume sapi bakalan di Australia akibat bencana pada 2019 lalu.

Adapun, faktor intrinsik yang memengaruhi harga sapi bakalan seperti gejolak harga dunia, kendala pasokan, dan kelangkaan kontainer tidak diatur dalam pakta dagang dua negara tersebut. Hal itu belakangan yang menyebabkan harga beli sapi bakalan tetap tertahan tinggi kendati Indonesia memiliki pakta dagang dengan Australia.

“Jadi bukan karena IA-CEPA tidak dipakai. Justru, sejak diratifikasi IA-CEPA pertama-tama dipakai oleh para importir agar impor sapi dari Australia bisa lebih efisien untuk membantu sektor peternakan sapi dan industri sapi potong nasional,” kata dia.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong (Gapuspindo) Joni P. Liano mengaku pengusaha mulai merasa keberatan untuk kembali mengimpor daging sapi bakalan dari Australia seiring dengan kenaikan harga yang signifikan sejak November 2021.

Berdasarkan catatan Gapuspindo, harga impor sapi bakalan jantan dari Australia pada November 2021 berada di angka US$3,65 per kilogram (CIF) atau setara dengan Rp56.574 per kilogram (landed kandang). Selang tiga bulan, harga beli sapi dari Australia itu mengalami kenaikan 24,1 persen menjadi US$4,53 atau Rp70.413 per kilogram pada Februari 2022.

“Jikalau kita tidak diperkenankan menyesuaikan harga ya kita rugi dong, kita tidak akan impor, tapi pebisnis tidak boleh menyerah, kita mencoba untuk menggambarkan situasi ini kepada pembeli kita,” kata Joni melalui sambungan telepon, Selasa (1/3/2022).

Joni meminta pemerintah untuk membuka kesempatan impor bagi swasta di negara lain seperti India, Meksiko dan Brazil. Langkah itu diambil untuk membuat harga beli sapi bakalan lebih berdaya saing.

“Kita kalau sudah tergantung sama satu pemasok itu bingung harus dibuka yang lain,” kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

daging sapi ia-cepa
Editor : Dwi Nicken Tari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top