Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inflasi AS per Januari 2022 Diperkirakan Tembus 6 Persen

Inflasi AS pada tahap awal dari proses produksi juga terkerek. Kekhawatiran invasi militer Rusia ke Ukraina juga memicu kenaikan harga minyak dan komoditas lainnya.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 20 Februari 2022  |  10:48 WIB
Warga melintas di depan gedung bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Rabu (31/7/2019). Bloomberg - Andrew Harrer
Warga melintas di depan gedung bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Rabu (31/7/2019). Bloomberg - Andrew Harrer

Bisnis.com, JAKARTA - Inflasi Amerika Serikat bakal kembali memanas dengan perkiraan median indeks harga pengeluaran melonjak 6 persen pada Januari dibandingkan dengan tahun lalu, menurut survei Bloomberg.

Ukuran yang dijadikan target inflasi Federal Reserve ini diperkirakan naik 5,2 persen, belum termasuk harga pangan dan bahan bakar.

Kurang dari sebulan sebelum pertemuan The Fed berikutnya pada Maret, ukuran harga yang naik tajam akan memicu kenaikan setengah poin dalam suku bunga acuan.

Indeks harga konsumen pada Januari naik melampaui estimasi dengan kenaikan pada biaya barang dan jasa.

Inflasi pada tahap awal dari proses produksi juga terkerek. Kekhawatiran invasi militer Rusia ke Ukraina juga memicu kenaikan harga minyak dan komoditas lainnya.

"Eskalasi konflik Rusia - Ukraina akan berujung pada kenaikan harga energi yang tidak diinginkan, kondisi keuangan yang lebih ketat, dan perubahan kepercayaan yang merugikan. Semuanya relevan dengan pemikiran The Fed untuk pengetatan," kata analis Bloomberg Anna Wong, Yelena Shulyatyeva, Andrew Husby and Eliza Winger

Hasil harga pembelian manufaktur (PMI) dari IHS Markit pada Februari mengisyarakatkan perbaikan ekonomi AS dari omicron pada pekan liburan pendek. Para ekonom menyerukan percepatan moderat dalam laju aktivitas.

Sebelumnya, ekonom JPMorgan Chase & Co., memproyeksikan The Fed menaikkan suku bunga acuan hingga 25 basis poin dalam sembilan pertemuan berturut-turut sebagai upaya menekan inflasi.

JPMorgan bersama dengan ekonom di Wall Street meningkatkan taruhan pengetatan kebijakan yang lebih cepat, setelah harga konsumen AS mencatat lonjakan terbesar sejak 1982 pada Januari.

Sementara itu, Goldman Sachs Group Inc., memperkirakan tujuh kali kenaikan tahun ini, naik dari prediksi sebelumnya lima kali.

"Sekarang kami memperkirakan kenaikan 25 basis poin The Fed pada setiap sembilan kali pertemuan dengan suku bunga acuan mendekati tingkat netral pada awal tahun depan,” tulis tim JPMorgan, yang dipimpin oleh Kepala Ekonom Bruce Kasman dalam sebuah catatan penelitian.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi as Inflasi the fed

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top