Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Miliaran Babi di China Bikin Harga Impor Kedelai RI Mahal

Harga kedelai per gantang yang semula US$12 dolar naik menjadi US$18 per gantang ini juga dipicu oleh kebutuhan besar pakan ternak babi di China. Sebanyak miliaran babi baru di China diberi pakan kedelai.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 20 Februari 2022  |  10:42 WIB
Miliaran Babi di China Bikin Harga Impor Kedelai RI Mahal
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi di sela-sela gelaran World Expo 2020 Dubai. - Bisnis/Gajah Kusumo
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengungkapkan harga kedelai impor Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh masalah El Nina di kawasan Amerika Selatan.

Harga kedelai per gantang yang semula US$12 dolar naik menjadi US$18 per gantang ini juga dipicu oleh kebutuhan besar pakan ternak babi di China. Sebanyak lima babi baru di China diberi pakan kedelai.

"Awalnya peternakan babi uang tak makan kedelai, sekarang [babi di China] makan kedelai. jadi demand sangat tinggi," ujar Lutfi dikutip dari Antara.

Lutfi berjanji pihaknya akan melakukan mitigasi untuk masalah ini. Dia menuturkan kebutuhan kedelai dalam negeri mencapai 3 juta ton. Namun, budidaya di Tanah Air hanya mampu memproduksi 500.000-700.000 ton per tahunnya.

Alhasil, Indonesia harus mengimpor kedelai untuk memenuhi gap permintaan.

Dikutip dari the Pig Site, kedelai berjangka China melonjak ke rekor tertinggi minggu ini di tengah kekhawatiran tentang skala panen kedelai Amerika Selatan yang dilanda kekeringan dan pengetatan pasokan makanan di pasar domestik.

Kenaikan harga kedelai, bahan protein utama dalam pakan ternak, dapat mengangkat biaya produksi bagi peternak babi China yang sudah berjuang dengan kerugian besar, dan mungkin mendorong beberapa untuk keluar dari pasar, menurut para pedagang dan analis.

Kontrak kedelai berjangka yang paling aktif diperdagangkan di Dalian Commodity Exchange menguat menjadi 3.792 yuan (US$596.22) per ton minggu ini, rekor harga tertinggi, dan naik 13 persen dari sebelum liburan Tahun Baru Imlek selama seminggu.

"Impor kedelai pada semester kedua tahun lalu rendah, dan importir menunggu margin membaik," kata Darin Friedrichs, salah satu pendiri perusahaan riset pertanian Sitonia Consulting.

"Tapi sekarang ada masalah produksi. Kontrak berjangka AS telah banyak mengalami reli, dan Dalian sedang mengejar ketinggalan," kata Friedrichs.

Importir China telah mengandalkan pasokan kedelai yang melimpah dan murah dari Brasil untuk tiba bulan ini dan memenuhi kebutuhan mereka untuk kuartal pertama tahun 2022.

Namun masalah tanaman di Amerika Selatan kini membuat beberapa pihak lengah.

"Pabrik pemroses [kedelai] tidak menerima kargo yang cukup," kata seorang manajer yang berbasis di China selatan.

"Kami tidak melakukan banyak pembelian sebelumnya karena marginnya rendah," kata manajer yang menolak disebutkan namanya karena sensitivitas masalah ini.

Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) melaporkan sebagian besar importir skala kecil hingga sedang menahan diri untuk melakukan impor kedelai di tengah kenaikan harga bahan baku tempe dan tahu. Kenaikan harga komoditas tersebut diproyeksikan berlanjut hingga pertengahan tahun ini.

Direktur Akindo Hidayat mengatakan penahanan impor yang dilakukan pelaku usaha pengolahan skala kecil hingga sedang itu tidak akan mengganggu pasokan kedelai impor untuk pengrajin tahu dan tempe dalam negeri.

“Dengan harga tinggi [kedelai] beberapa importir kecil sudah menahan diri untuk impor karena fluktuasi yang tajam sebagian sudah mengurangi tetapi mudah-mudahan dari importir besar itu menjamin ketersediaan stok untuk para pengrajin,” kata Hidayat melalui sambungan telepon, Kamis (17/2/2022).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china kedelai babi
Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top