Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produsen Sebut Penerapan Neraca Komoditas untuk Pupuk Belum Urgen

Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI) menyebut penerapan neraca komoditas untuk pupuk belum mendesak dilakukan meski harganya terus merangkak naik.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 18 Februari 2022  |  00:41 WIB
Produsen Sebut Penerapan Neraca Komoditas untuk Pupuk Belum Urgen
Petani beraktivitas di lahan persawahan di kawasan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (17/1/2022). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI) menilai perluasan penerapan neraca komoditas untuk mengatur keseimbangan ekspor dan impor pupuk dalam negeri belum mendesak dilakukan di tengah kenaikan harga komoditas itu di pasar dunia.

Sekretaris Jenderal APPI Achmad Tossin Sutawikara mengatakan kenaikan harga pupuk sejak akhir tahun lalu dominan dipicu oleh fluktuasi harga global. Artinya, menurut dia, permasalahan harga pupuk itu tidak dapat diurai lewat keseimbangan ekspor dan impor.

“APPI tidak melihat neraca komoditas sebagai instrumen untuk menjaga harga pupuk di dalam negeri, karena permasalahannya bukan dalam equilibrium ekspor-impor, namun lebih disebabkan oleh penawaran dan permintaan dalam negeri,” kata Tossin melalui pesan whatsapp, Kamis (17/2/2022).

Kendati demikian, dia menuturkan bahan baku pupuk NPK masih bergantung pada impor. Dengan demikian, kenaikan harga pupuk nonsubsidi sejak akhir tahun lalu sebagian besar dipicu oleh fluktuasi harga global.

“Memang benar untuk pupuk NPK banyak tergantung impor bahan baku, namun tingginya harga pupuk komersial saat ini, lebih disebabkan karena fluktuasi harga global, di mana pasar Indonesia harus mengikutinya,” kata dia.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan memproyeksikan harga pupuk non subsidi bakal mengalami kenaikan sepanjang 2022 akibat melonjaknya harga bahan baku di tingkat global. Kenaikan harga pupuk itu belakangan ikut andil memengaruhi inflasi pada komoditas pangan awal tahun ini.

Direktur Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Kemendag Isy Karim mengatakan kementeriannya tengah berkoordinasi dengan produsen pupuk dalam negeri untuk menjaga harga pupuk non subsidi tetap stabil di tengah gejolak harga dunia.

Isy Karim menargetkan produsen dalam negeri dapat memberikan harga di bawah harga internasional untuk menjaga akses pupuk bagi petani.

“Kenaikan harga pupuk nonsubsidi disebabkan oleh melonjaknya harga berbagai komoditas dunia seperti amonia, phosphate rock, KCL, gas dan minyak bumi karena pandemi, krisis energi di Eropa serta adanya kebijakan beberapa negara yang menghentikan ekspornya,” kata Isy Karim melalui pesan WhatsApps, Minggu (9/1/2022).

Berdasarkan data World Bank-Commodity Market Review per 4 Januari 2022, Pupuk Urea dan diamonium fosfat (DAP) mengalami kenaikan yang signifikan. Sepanjang Januari hingga Desember 2021 misalnya, harga diamonium fosfat (DAP) di pasar internasional mengalami kenaikan sebesar 76,95 persen. Saat awal tahun lalu, harga pupuk itu mencapai US$421 per ton, pencatat itu berakhir di posisi US$745 per ton pada Desember 2021.

Di sisi lain, Pupuk Urea mengalami peningkatan harga mencapai 235,85 persen sepanjang tahun lalu. Pupuk Urea sempat berada di harga US$265 per ton belakangan naik menjadi US$890 per ton pada Desember 2021.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor Inflasi pupuk pupuk bersubsidi impor bahan baku
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top