Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Upaya Mengakhiri Stimulus Fiskal di Masa Pandemi Covid-19 Kembali jadi Sorotan G20

Kondisi fiskal yang semakin ketat membuat insentif dan kebijakan khusus tidak dapat berjalan seterusnya. Oleh karena itu, exit strategy dibutuhkan dalam hal ini.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 17 Februari 2022  |  10:38 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memimpin pertemuan tingkat Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral atau Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting (FMCBG) di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (17/2/2022). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat - POOL
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memimpin pertemuan tingkat Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral atau Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting (FMCBG) di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (17/2/2022). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat - POOL

Bisnis.com, JAKARTA — Koordinasi negara-negara G20 ketika hendak memutus stimulus fiskal atau exit strategy dari kebijakan selama pandemi Covid-19 menjadi salah satu pembahasan utama dalam rangkaian pertemuan G20.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral (Finance Ministers and Central Bank Governors/FMCBG), Kamis (17/2/2022) sebagai bagian dari rangkaian acara G20.

Sri Mulyani menjelaskan bahwa selama tiga tahun pandemi Covid-19 seluruh negara mengeluarkan berbagai kebijakan agar perekonomian tidak terperosok hingga dalam. Namun, kondisi fiskal yang semakin ketat membuat insentif dan kebijakan khusus tidak dapat berjalan seterusnya.

Berbagai kebijakan dan insentif itu akan dicabut secara bertahap ketika kondisi ekonomi sebuah negara sudah lebih baik. Namun, Sri Mulyani mengingatkan bahwa kebijakan makroekonomi suatu negara dapat memengaruhi kondisi ekonomi negara dan bahkan kawasannya.

"Pengalihan pemulihan ekonomi bisa berimplikasi signifikan karena dapat menyebabkan normalisasi kebijakan yang berbeda dan berpotensi menciptakan kondisi keuangan global yang lebih ketat. Dalam hal ini, koordinasi global termasuk pembahasan exit strategy menjadi sangat penting," ujar Sri Mulyani pada Kamis (17/2/2022).

Dia menilai bahwa kerja sama dan kolaborasi negara-negara G20 dalam exit policy menjadi sangat penting. Koordinasi itu dapat menjaga agar negara-negara lain dapat bersiap ketika terdapat suatu negara yang akan melakukan normalisasi demi pemulihan ekonomi.

Misalnya, koordinasi Amerika Serikat dan negara-negara G20 menjadi penting ketika The Fed hendak menerbitkan suatu kebijakan. Aksi The Fed dapat memengaruhi arus modal banyak negara, sehingga negara-negara terkait dapat bersiap terlebih dahulu dengan adanya koordinasi.

"Untuk mencapai pemulihan yang lancar, mencapai keseimbangan ekonomi yang berkelanjutan dan kuat, serta pertumbuhan inklusif, perlu adanya koordinasi. Kita perlu meninggalkan luka [scarring effect] ekonomi yang bertahan lama akibat pandemi Covid-19," ujar Sri Mulyani.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

g20 sri mulyani insentif fiskal
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top