Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menteri Bahlil Bandingkan Potret Investasi 3 Tahun Lalu, Ada Progres?

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia menyatakan investasi Indonesia sudah mulai bergerak ke arah penghiliran industri.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 10 Februari 2022  |  13:20 WIB
Menteri Bahlil Bandingkan Potret Investasi 3 Tahun Lalu, Ada Progres?
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia menyampaikan keterangan pers terkait pencabutan Izin Usaha Pertambangan (IUP), Hak Guna Usaha (HGU), dan Hak Guna Bangunan (HGB) terhadap sejumlah perusahaan di Kantor BKPM, Jakarta, Jumat (7/1/2022). ANTARA FOTO - Galih Pradipta

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia membandingkan potret investasi sejak 2019 hingga 2021. Menurutnya, investasi saat ini sudah lebih merata hingga luar Jawa serta mengarah ke industri berbasis nilai tambah atau hilirisasi.

Pada Mandiri Investment Forum, Kamis (10/2/2022), Bahlil menjelaskan kondisi investasi di Indonesia pada saat pertama kali dirinya menjabat sebagai Kepala BKPM (belum menjadi kementerian). Saat itu, dia mengatakan investasi masih belum terlalu merata dan proyek investasi mangkrak mencapai Rp708 triliun.

"Lalu, perizinan tidak terpusat dan harga tanah begitu mahal. Ini potret investasi 2019. Foreign Direct Investment kita tumbuhnya lambat," jelas Bahlil, dikutip dari siaran virtual, Kamis (10/2/2022).

Saat ini, Bahlil menyebut kondisi investasi di Indonesia sudah lebih optimal. Dia menyampaikan bahwa investasi sudah merata, bahkan sudah lebih besar di luar Jawa. Per Desember 2021, investasi di luar Jawa tercatat sebesar 52 persen (Rp468,2 triliun) dari capaian penanaman modal sepanjang tahun lalu yakni Rp901,0 triliun.

Pada 2020, investasi sudah mulai berimbang antar Jawa dan luar Jawa yakni 49,5 persen dan 50,5 persen. Pada 2019, investasi masih lebih besar di Jawa yakni 53,7 persen, dan di luar Jawa sebesar 46,3 persen.

Bahlil berulang kali menyebut bahkan sebelum acara ini, pemerataan investasi hingga saat ini adalah berkat pembangunan infrastruktur pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo periode pertama.

"Karena bukan rahasia lagi, setiap investasi yang masuk ke daerah, yang pertama dicek adalah infrastrukturnya. Cost logistik itu 27 persen dari total pokok produksi. Kedua, yaitu stabilitas politik di daerah yang sekarang sudah mulai bagus," jelasnya.

Mantan Ketua Umum BPP HIPMI ini juga menyampaikan bahwa investasi Indonesia sudah mulai bergerak ke arah penghiliran industri. Fokus tersebut bergeser dari yang awalnya pada sektor primer.

Sejak 2019, investasi pada sektor industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya secara bertahap naik peringkat. Pada 2019, investasi pada sektor tersebut berada di peringkat empat besar, lalu naik ke tiga besar di 2020, dan akhirnya menduduki peringkat pertama di 2021 dengan nilai investasi Rp117,5 triliun atau 13 persen dari total investasi.

Di samping itu, Bahlil menyampaikan kini FDI yang masuk ke Indonesia datang dari berbagai negara, tidak terbatas pada negara tertentu saja. Misalnya, FDI yang masuk ke dalam negeri tahun lalu lebih beragam yakni ada yang berasal dari kawasan ASEAN, Asia, Amerika, dan Eropa.

Pada 2021, terdapat dua negara Eropa yang masuk ke 10 besar negara asal FDI yaitu Belanda dan Swiss. Pada tahun-tahun sebelumnya, negara di kawasan Eropa jarang sekali masuk ke urutan 10 besar.

Tahun ini target capaian investasi BKPM tumbuh lebih dari 30 persen yakni sebesar Rp1.200 triliun. Bahlil menyampaikan bahwa pihaknya optimistis target tersebut bisa tercapai pada akhir tahun nanti.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi bkpm bahlil lahadalia
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top