Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Top 5 News Bisnisindonesia.id: Nilai Tukar Petani Tertahan Harga Pupuk hingga Prospek Muram Harga Kontainer

Sejumlah topik di Bisnisindonesia.id mulai dari nilai tukar petani tertahan kenaikan harga pupuk hingga prospek muram harga kontainer menjadi dua dari lima berita pilihan yang patut Anda baca lebih lengkap.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 07 Februari 2022  |  12:52 WIB
Buruh tani merawat tanaman tembakau di Sekejengkol, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/1/2022). ANTARA FOTO - Raisan Al Farisi
Buruh tani merawat tanaman tembakau di Sekejengkol, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/1/2022). ANTARA FOTO - Raisan Al Farisi

Bisnis, JAKARTA— Kenaikan harga pupuk yang bekepanjangan berpotensi menahan nilai tukar petani di Tanah Air. Artikel tersebut merupakan satu dari lima artikel pilihan editor di Bisnisindonesia.id. Simak seluruh pilihan selengkapnya.

1. Harga Pupuk Mengamuk, Nilai Tukar Petani Siap Terpuruk

Benang kusut problem kelangkaan pupuk nonsubsidi yang tidak kunjung terurai sejak kuartal terakhir tahun lalu mulai berimbas signifikan terhadap kesejahteraan petani serta produktivitas sektor agrobisnis. 

Menurut laporan Serikat Petani Indonesia (SPI), pendapatan petani yang tecermin dalam nilai tukar petani (NTP) mengalami penurunan yang cukup drastis pada Februrari 2022, akibat kenaikan harga pupuk nonsubsidi sejak akhir tahun lalu. 

Tendensi kemerosotan NTP terjadi merata di setiap daerah. Selain itu, SPI melaporkan NTP yang tercatat di dua kabupaten di Jawa Barat yakni Subang dan Indramayu dengan Rp4.700 pada pekan pertama Februari 2022. Di sisi lain, NTP di Banten hingga Tuban, Jawa Timur sebesar Rp4.600 pada periode yang sama.

Adapun, harga gabah kering panen (GKP) milik petani mengalami penurunan setiap bulannya saat biaya produksi tertahan di level tinggi sejak akhir tahun lalu. Harga GKP pada Januari 2022 disebutnya berada di angka Rp5.000/kg. Belakangan, harga GKP susut menjadi Rp4.600/kg pada pekan pertama Februari 2022.

Pemerintah diminta turun tangan menangani gejolak harga pupuk nonsubsidi yang sudah berlangsung lama. Harapannya, NTP dapat terjaga di tengah merosotnya harga jual GKP pada saat panen raya mendatang. 

Simak penjelasan lebih lengkapnya di bisnisindonesia.id.

 

Proyek pembangunan ibu kota negara (IKN) diharapkan menjadi pendorong minat berinvestasi di sukuk negara. (Antara)

2. Misi Mengerek Pamor Sukuk Lewat Pembangunan IKN 

Sukuk negara menjadi minoritas di surat berharga negara (SBN) yang beredar. Dari total surat berharga negara (SBN) beredar, baru 17,09 persen di antaranya yang berupa sukuk.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, hingga 3 Februari 2022, total surat berharga negara (SBN) yang beredar mencapai Rp4.672,07 triliun dan baru 17,09 persen di antaranya atau Rp798,31 triliun yang diterbitkan berupa sukuk. Porsi tersebut mendekati total kepemilikan surat utang negara (SUN) oleh investor asing. 

Tingginya kebutuhan dana akhirnya mendorong pemerintah untuk melakukan diversifikasi untuk mendanai proyek, termasuk proyek besar pembangunan Ibu Kota Negara (IKN). Tak ada yang salah dengan pilihan pemerintah. 

Proyek yang menarik perhatian publik karena sumber pendanaannya itu diharapkan mampu menjadi magnet bagi investor sukuk. Sukuk emang kerap menjadi pendanaan proyek infrastruktur. Dengan demikian, penggunaan sukuk bagi proyek infrastruktur pemerintah bukanlah hal baru. 

Namun, hal yang unik dari sukuk yakni instrumen surat utang syariah ini memiliki basis investor lokal yang kuat. Dengan demikian, penawaran sukuk yang digunakan untuk mendanai IKN bisa menarik investor sukuk di Tanah Air. 

 Simak laporan lengkap tentang daya tarik proyek Ibu Kota Negara (IKN) terhadap instrumen sukuk negara. di bisnisindonesia.id.

Sektor UMKM mengawali era pencabutan insentif yang diberikan pemerintah untuk mengatasi tekanan ekonomi akibat pandemi. (Antara)

3. Insentif PPh Final UMKM Diakhiri, Usaha Kecil Bak Anak Tiri

Baru setahun pajak penghasilan final UMKM ditanggung pemerintah, stimulus itu diakhiri saat sektor lain masih menerima dukungan fiskal. 

Peraturan Menteri Keuangan No 3/PMK.03/2022 tak lagi mencantumkan insentif itu, bersamaan dengan penghentian insentif PPh Pasal 21 karyawan DTP. Beleid itu hanya mengatur kelanjutan tiga insentif, yakni pembebasan pemungutan PPh Pasal 22 Impor, pengurangan angsuran PPh (Pasal 25) sebanyak 50 persen, dan PPh final DTP jasa konstruksi, khususnya bagi wajib pajak (WP) penerima Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI). 

Pembebasan pemungutan PPh Pasal 22 Impor diperpanjang hingga 30 Juni 2022. Adapun, pengurangan angsuran PPh Pasal 25 dan insentif PPh final DTP WP penerima P3TGAI diberikan untuk masa pajak Januari hingga Juni 2022. 

Penghentian insentif PPh final UMKM diputuskan saat Kementerian Keuangan memperpanjang pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) sektor properti dan pajak penjualan barang mewah ditanggung pemerintah (PPnBM DTP) bagi sektor otomotif, yang akan diatur dalam regulasi terpisah. Stimulus PPN properti dilanjutkan hingga Juni 2022, sedangkan insentif PPnBM otomotif diperpanjang hingga September 2022. 

PMK 3 menyatakan perpanjangan jangka waktu pemberian insentif pajak diberikan dengan memperhatikan kapasitas fiskal untuk mendukung percepatan pemulihan ekonomi nasional. 

Pengakhiran insentif PPh final UMKM dilakukan saat banyak UMKM belum pulih ke level prapandemi. Mengutip survei Mandiri Institute yang dilakukan akhir 2021, 56,8 persen UMKM memang telah berjalan normal, lebih tinggi dibandingkan dengan periode PPKM Darurat Juli-Agustus, ketika hanya 33,6 persen UMKM yang berjalan normal. Artinya, masih ada sekitar 43 persen UMKM yang belum beraktivitas normal. 

Lalu, bagaimana dengan nasib pelaku UMKM setelah aturan tersebut dirilis? Simak laporan lengkapnya di bisnisindonesia.id.

Bukan Indonesia, justru Singapura dan Vietnam yang diproyeksi mampu pulih lebih dulu dari pandemi. (Bisnis/Arief Hermawan)

4. Singapura & Vietnam Pimpin Pemulihan Properti Asia Tenggara

Pasar properti Singapura dan Vietnam akan memimpin pemulihan bisnis itu di Asia Tenggara, lebih cepat daripada negara-negara lain di kawasan tersebut setelah perekonomian mereka dihantam pandemi Covid-19 dan sekarang bangkit dengan memacu vaksinasi.

Meski tantangan tidak mungkin hilang dalam waktu dekat, kawasan itu secara keseluruhan memiliki beberapa peningkatan tahun ini, dengan pemulihan ekonomi diharapkan lebih jelas pada paruh kedua, menurut konsultan bisnis properti global Knight Frank.

Harga rumah yang dibangun swasta di Singapura naik untuk kuartal ketujuh berturut-turut pada periode Oktober hingga Desember, menurut data pemerintah. Kenaikan 5 persen merupakan tingkat pertumbuhan kuartalan yang paling curam sejak kuartal kedua 2010, menurut agen properti PropNex Realty.

Untuk setahun penuh, harga rumah yang dibangun swasta atau nonsubsidi pemerintah naik 10,6 persen, terbesar sejak 2010.

Ruang perkantoran di Singapura, sebagai salah satu pusat keuangan dunia, juga kemungkinan akan memimpin di Asia Tenggara, dengan harga sewa akan naik 10 persen tahun ini, menurut konsultan properti CBRE (Coldwell Banker Richard Ellis) yang dikutip South China Morning Post.

Bagaimana Singapura & Vietnam bisa memiliki prospek pemulihan sektor properti yang lebih cerah daripada Indonesia? Simak laporan lengkapnya di bisnisindonesia.id.

Tren harga kontainer di pasar global turun tetapi berbeda dengan kondisi di Tanah Air. Harga kontainer di Tanah Air diproyeksi tetap tinggi. (Antara)

5. Prospek Cerah Tarif Kontainer di Luar, tapi Mendung di Tanah Air

Kabar baik bagi eksportir dan importir. Tarif kontainer diperkirakan menjinak tahun ini karena mobilisasi kapal-kapal kontainer meskipun masih mahal dibandingkan dengan sebelum pandemi.

Tindakan pengendalian Covid-19 yang melunak bersamaan dengan kemajuan peluncuran vaksinasi dan pembalikan tren dekontainerisasi memicu penurunan tarif pengapalan kontainer tahun ini sekitar 30 persen, menurut IHS Markit.

Pasokan kapal-kapal kontainer baru akan membantu pelandaian tarif. Setelah tarif kontainer meroket tahun lalu, operator-operator memodifkasi kapal kargo umum (breakbulk) dan kargo serupa dengan bulker bermesin (supramax dan handysize) menjadi kapal peti kemas. Kapal-kapal kontainer baru pun akan diluncurkan tahun ini. 

Prediksi IHS Markit selaras pula dengan Freightos Baltic Index yang menampakkan tarif kontainer global US$9.660 per 4 Februari, turun dari puncaknya US$11.109 pada 10 September 2021. Tarif kontainer berangsur-angsur turun ke bawah US$10.000 mulai November 2021. 

Kendati turun, tetap saja tarif pada semester I/2022 terbilang tinggi karena sempat meroket tahun lalu, misalnya ke Eropa yang lebih dari empat kali lipat, Teluk Persia & Laut Merah, Amerika Selatan, Australia, dan Selandia Baru yang lebih dari 3,5 kali lipat, dan –yang paling sedikit terpengaruh— ke Korea dan Pantai Timur Amerika Serikat yang meningkat di bawah 200 persen. 

Koreksi akan berlanjut pada tahun-tahun mendatang sejalan dengan pengurangan kemacetan dan peluncuran kapal-kapal baru. Setelah meningkat 4,3 persen pada 2021, IHS Markit memperkirakan pertumbuhan armada peti kemas akan 4,5 persen pada 2022 dan 7,5 persen pada 2023, dibandingkan dengan 2020 yang hanya 3 persen.

Apa yang menyebabkan tren harga kontainer global dan Indonesia berbeda? Simak laporan lengkap tentang harga prospek harga kontainer di Tanah Air di bisnisindonesia.id.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti sukuk umkm kontainer pupuk nilai tukar petani pajak umkm IKN
Editor : Duwi Setiya Ariyanti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top