Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

EKONOMI KREATIF: Tak Cuma Kejar Cuan Dari NFT

Seniman-seniman muda di Surakarta, Jawa Tengah membangun jalan alternatif untuk memajukan ekonomi kreatif melalui non-fungible token (NFT).
Mantul Studio, studio sederhana tempat berkegiatan seniman-seniman muda lintas disiplin Kota Surakarta. Selain mengerjakan karya konvensional, sebagian besar seniman di studio ini kini ikut terjun ke dunia NFT./BISNIS-Muhammad Faisal Nur Ikhsan
Mantul Studio, studio sederhana tempat berkegiatan seniman-seniman muda lintas disiplin Kota Surakarta. Selain mengerjakan karya konvensional, sebagian besar seniman di studio ini kini ikut terjun ke dunia NFT./BISNIS-Muhammad Faisal Nur Ikhsan

Bisnis.com, SURAKARTA - Ghozali Everyday alias Sultan Gustaf Al Ghozali, mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang, mendadak viral di dunia maya. Lebih dari 900 karya swafoto yang dikoleksinya sejak tahun 2017 lalu, kini laris manis diperjualbelikan.

Memanfaatkan teknologi Non-Fungible Token (NFT), Ghozali sukses menjual karyanya tersebut melalui platform OpenSea. Pendapatannya bahkan menembus angka miliaran rupiah. Dalam wacancaranya bersama Deddy Corbuzier, Ghozali mengungkapkan bahwa motivasinya untuk menjual swafoto tak lebih dari sekedar gurauan.

"Saya mikir, kalau ada kolektor punya banyak koleksi bagus lalu ada muka saya kan lucu. Pertama nyoba upload foto selfie di OpenSea kan tujuannya lucu-lucuan," ucapnya.

Berawal dari keisengannya tersebut, tak dinyana, kini Ghozali justru ketiban untung hingga miliaran.

Fenomena tersebut kian melambungkan popularitas NFT di Tanah Air. Memang, jauh sebelum Ghozali, telah banyak seniman-seniman Tanah Air yang menjual karyanya dalam bentuk NFT. Sebut saja kolektif Superlative Secret Society atau SuperlativeSS yang kini telah membuka galeri NFT pertamanya di Bali.

Lain Ghozali, lain pula motivasi anak-anak muda Kota Surakarta yang tergabung dalam Mantul Studio. Studio yang menampung seniman-seniman lintas disiplin tersebut memang banyak yang terjun ke dunia NFT karena penasaran. Seperti yang dialami Arzena, salah seorang ilustrator di Mantul Studio, yang sudah lebih dulu akrab dengan platform-platform pekerjaan lepas atau freelance seperti Fiverr.

"Dulu masih kuliah sudah mulai cari-cari duit lah. Terus kalau teman-teman yang lain, ada yang main Instagram dan mendapat pesanan, kadang ada juga project event untuk menggarap artistik," jelasnya saat ditemui Bisnis beberapa waktu lalu.

NFT dipilih Arzena untuk memamerkan karya-karya berupa ilustrasi yang memang digarapnya secara digital. Jika platform-platform media sosial hanya menawarkan 'like' sebagai bentuk apresiasi karya, melalui NFT Arzena bisa meraup keuntungan materi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Ada apresiasi lebih yang bisa didapat dari NFT. Kalau Instagram kan cuma 'like', sekarang ya bisa mendapat lebih dari itu. Tapi gak semua [yang terjun ke NFT] bisa mendapat income yang bagus," jelas Arzena.

Memang, seniman-seniman seperti Arzena belum tentu bisa menjual karya NFT secara mudah dan murah. Ada biaya yang mesti dikeluarkan sebelum bisa menjual NFT. Biaya tersebut digunakan untuk merekam hasil karya yang akan dijual ke dalam blockchain, atau istilahnya minting.

Setiap bulannya, Arzena bisa melakukan proses minting untuk 1-2 karya. Biaya yang dihabiskan cukup bervariasi, tergantung mata uang kripto dan lokapasar yang digunakan.

"Aku laku paling 2-3 bulan sekali, karena mampunya hanya [minting] segitu. Itu juga harus menunggu. Memang pernah ada yang langsung laku. Tapi ya seringnya menunggu laris. Untuk kolektornya sendiri bermacam-macam. Ada yang dari luar negeri, tapi dari Indonesia juga ada. Arief Witjaksana dari SuperlativeSS juga koleksi," ucap Arzena.

EKONOMI KREATIF: Tak Cuma Kejar Cuan Dari NFT

Kiri ke kanan. Rakasu dan Arzena, seniman NFT asal Kota Surakarta saat ditemui Bisnis di studionya beberapa waktu lalu./BISNIS-Muhammad Faisal Nur Ikhsan.

Tak Melulu Soal Cuan

Rakasu, seniman lain yang tergabung di Mantul Studio, menyebut bahwa meskipun tidak ada kepastian perihal pendapatan dari NFT namun apa yang dihasilkannya sudah lebih dari cukup untuk membiayai hidup sehari-hari.

"Minimal saya bisa bayar wifi, bayar kontrakan, bisa upgrade studio. Jadi ketika studio ini boom, kita bisa gunakan untuk praktek seni rupa konvensional. Bisa buat galeri, koperasi, supaya teman-teman yang butuh sesuatu bisa datang kesini. Jadi memang motivasinya tidak lagi mencari keuntungan personal, tapi juga ada impact ke komunitas," katanya Rakasu.

Visi tersebut muncul bukan tanpa alasan. Sebab ekosistem kesenian di Kota Surakarta masih jauh dari kata mapan. Minimnya ruang pamer membuat seniman-seniman seperti Rakasu ataupun Arzena kesulitan.

Untuk art space atau tempat memajang karya yang proper, satu ruang pun tidak ada. TBJT (Taman Budaya Jawa Tengah) paling, itu pun harus izin dan lain sebagainya. Dia menuturkan untuk menyewa ruang pamer juga tidak memungkinkan untuk digarap sendiri, karena terlalu mahal.

Rakasu dan seniman-seniman lain di Mantul Studio masih belum tahu pasti, kapan mereka akan benar-benar mampu mewujudkan ambisi tersebut. Yang jelas, di tengah naiknya popularitas NFT, kelompok seniman tersebut bakal terus memanfaatkan peluang yang ada.

"Mumpung NFT ini masih lahan basah, kita keruk saja sekalian. Minimal kita punya kemungkinan untuk punya nama. Ketika sudah establish, maka akan ada income. Ini penting, karena di NFT, ada kemungkinan nobody menjadi somebody. Begitu pula sebaliknya. Itu sudah banyak terjadi," jelas Rakasu.

 Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Ipung Kurniawan Yunianto, menyebut bahwa NFT membuka akses bagi seniman-seniman muda, untuk bisa mengambil keuntungan ekonomi dari karya yang dibuatnya. NFT menjadi jalur alternatif yang bisa ditempuh, terlebih bagi seniman-seniman yang tidak memiliki akses ke galeri-galeri seni.

"Lewat NFT ini, dia punya kesempatan yang besar supaya bisa mendulang keuntungan dengan diapresiasi karyanya," imbuhnya. 

Untuk bisa meraup untung lebih maksimal, Ipung menjelaskan bahwa pemain NFT mesti bisa menerapkan manajemen kesenian yang baik. Kecenderungannya, dia menilai rekan-rekan yang bermain di NFT sifatnya one man show.  Menurut Ipung, hal tersebut merupakan mindset yang usang. Semua jadi dikerjakan sendiri atua yang dikenal dengan konsep DIY (Do-it-Yourself). Padahal, era sekarang ini semuanya perlu kerja sama. 

Ipung memberikan gambaran bahwa manajemen NFT bisa dilakukan secara tim. Dimana seorang seniman bisa lebih fokus untuk menghasilkan karya-karya terbaik. Dia menilai idealnya ada tiga orang yang berperan, dimana satu orang fokus artwork, satu orang  fokus campaign, dan satu orang fokus manajemen.

"Ketika ketiganya ini bisa kerjasama, ini akan keren. Karena gak mungkin semuanya dijalankan oleh satu orang. Pasti nantinya akan terseok-seok," jelasnya.

Terkait masa depan NFT, Ipung menyangsikan kemampuan teknologi tersebut untuk bisa menggantikan peran galeri. Menurutnya, NFT dan galeri seni merupakan dua hal yang berbeda. Meski demikian, hal yang menarik di NFT yakni campaign-nya yang sangat bagus. 

Ipung juga menjelaskan bahwa sebuah karya NFT memiliki nilai lebih dengan kisah ataupun misi-misi khusus di belakangnya.

"Karena ada storytelling, ada noble of purpose, ini jadi value lebih bagi NFT. Maka ini bisa dijual," jelasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper