Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemulihan Ekonomi Nasional Timpang, Core Indonesia Beberkan Penyebabnya

Ketimpangan pemulihan ekonomi antar daerah dipicu oleh struktur ekonomi setiap daerah yang berbeda. Selain itu, sejumlah daerah tertentu belum memiliki struktur ekonomi yang beragam, alias masih hanya bertumpu pada satu sektor tertentu.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 29 Desember 2021  |  18:09 WIB
Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal - JIBI/Felix Jody Kinarwan
Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Pemulihan ekonomi yang tidak merata dari dampak pandemi Covid-19 di dunia, dinilai terjadi juga di Indonesia. Di tanah air, pemulihan yang tidak merata terjadi antara satu daerah dengan daerah lain.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan ketimpangan pemulihan ekonomi antar daerah dipicu oleh struktur ekonomi setiap daerah yang berbeda. Selain itu, sejumlah daerah tertentu belum memiliki struktur ekonomi yang beragam, alias masih hanya bertumpu pada satu sektor tertentu.

"Kuncinya di struktur ekonomi. Struktur ekonomi antar daerah luar biasa jauh. Secara kasaran saja, industri manufaktur masih terpusat di Jawa. Sementara, Sumatera, Kalimantan, Papua itu [pusatnya] pertambangan," jelas Faisal pada CORE Media Discussion di Jakarta, Rabu (29/12/2021).

Faisal mengungkap terdapat tiga fenomena yang paling mengemuka terkait dengan pemulihan ekonomi daerah yang tidak merata. Pertama, faktor pengendalian pandemi Covid-19 yang memiliki faktor berbeda kepada setiap daerah. Misalnya, daerah yang ekonominya sangat bertumpu pada satu sektor tertentu seperti pariwisata.

Dengan dinamika pengendalian pandemi sepanjang tahun, Faisal melihat ekonomi Bali belum pulih secara optimal. Hal ini erat kaitannya dengan Bali yang sangat bertumpu pada pariwisata.

Kendati demikian, daerah yang juga bertumpu pada pariwisata seperti Yogyakarta justru tidak mengalami hal yang sama dengan Bali. Pada kuartal II/2021, ekonomi Yogyakarta bahkan melonjak 11,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi dari rata-rata nasional yaitu 7,07 persen (yoy).

Selain didukung oleh sektor lain dalam struktur perekonomiannya, Yogyakarta juga diuntungkan oleh faktor pembatasan mobilitas dan kegiatan masyarakat yang diterapkan pemerintah. Karena, saat adanya pembatasan, transportasi udara lebih diperketat jika dibandingkan dengan transportasi darat.

"Inilah yang menyebabkan kenapa permintaan terhadap jasa pariwisata atau keinginan untuk berpariwisata tertahan. Orang-orang tidak bisa ke Bali dan keluar negeri, maka mereka mencari daerah-daerah yang bisa [ditempuh dengan darat]. Terutama, Yogyakarta masih dekat dengan Jabodetabek, maka mereka kesana. Apalagi masih di pulau Jawa dan difasilitasi tol lintas Jawa yang sudah jadi," jelasnya.

Kedua, tingkat ketergantungan tinggi terhadap komoditas sektor primer seperti pertambangan di daerah-daerah luar Jawa. Faisal mencontohkan Kalimatan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Papua, yang struktur ekonominya didominasi oleh pertambangan.

Hal ini terlihat saat adanya pelambatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2021 akibat merebaknya varian Delta. Saat beberapa daerah mengalami pelambatan pertumbuhan, daerah-daerah yang bertumpu pada pertambangan diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas.

"Dorongan dari kenaikan harga komoditas terhadap daerah-daerah yang sangat bergantung pada komoditas tambang itu sangat besar," jelas Faisal.

Akan tetapi, dia mencatat bahwa sturuktur seperti ini justru berbahaya untuk pertumbuhan jangka panjang. Oleh karena itu, saat harga komoditas melambat ke depannya, maka perekonomian daerah-daerah tersebut bisa ikut terimplikasi. Apalagi struktur perekonomian mereka hanya bertumpu atau sangat didominasi oleh sektor tersebut, menurut Faisal.

Oleh sebab itu, menurut Faisal struktur perekonomian daerah akan lebih kuat jika memiliki diversifikasi atau struktur perekonomian yang lebih beragam. Tidak bergantung hanya satu sektor saja.

Ketiga, pertumbuhan ekonomi yang konsisten pada sejumlah daerah dengan investasi tinggi seperti Sulawesi Tengah dan Maluku Utara. Pada 2020 dan 2021, ekonomi kedua daerah tidak mengalami kontraksi. Kendati posisi pertama struktur ekonomi kedua daerah masih pertanian, namun setelahnya langsung diikuti oleh industri dan pertambangan.

Faisal menilai karena masuknya investasi, maka struktur perekonomian di dua daerah tersebut menjadi lebih beragam atau terdiversifikasi.

"Ini artinya ada investasi yang masuk untuk pembangunan smelter yang mengolah bahan tambang menjadi produk olahan. Jadi, smelter-smelter yang masuk ke daerah Indonesia Timur ini ternyata nilainya besar, sehingga saat masuk sangat dominan memengaruhi ekonomi secara PDB," kata Faisal.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi ekonomi daerah core indonesia pemulihan ekonomi
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top