Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Properti 2022 ke Jarum Jam 9, Bos Sinar Mas Ungkap Faktor-faktornya

Praktisi bisnis properti mengungkapkan optimisme bahwa kondisi tahun depan bakal lebih baik dibandingkan dengan tahun ini. Terkait dengan hal itu, bos Sinar Mas Land menyebutkan sejumlah faktor penentunya.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 16 Desember 2021  |  17:49 WIB
Properti 2022 ke Jarum Jam 9, Bos Sinar Mas Ungkap Faktor-faktornya
Petani membajak sawah dengan latar belakang perumahan./Antara - Mohamad Hamzah
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Bisnis properti tahun depan berpotensi melebihi raihan 2021 dan menuju “jarum jam 9”, asalkan memperhatikan sejumlah faktor penentu, kata Managing Director Business Development Sinar Mas Land Alim Gunadi.

Dalam webinar Peluang dan Tantangan Industri Properti 2022 pada Kamis (16/12/2021), dia menyebutkan salah satu faktor penentu itu ialah ada insentif berkelanjutan, dalam hal ini stimulus Pajak Pertambahan Nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP).

Stimulus itu diberikan pemerintah mulai 1 Maret 2021 berupa pemangkasan PPN 100 persen untuk hunian tapak dan vertikal siap huni, juga rumah toko (ruko) dan rumah kantor (rukan) dengan harga maksimal Rp2 miliar dan 50 persen untuk harga Rp2 miliar hingga Rp5 miliar.

Stimulus itu semula berakhir pada 31 Agustus 2021, tetapi kemudian pemerintah memperpanjangnya hingga 31 Desember 2021. Melihat dampak positif dari stimulus tersebut, praktisi bisnis properti pun berharap pemerintah memperpanjangnya hingga akhir 2022.

Alim mengemukakan satu alasan keinginan perpanjangan stimulus tersebut adalah berkaitan dengan  customer experience yang bisa 3 sampai 4 bulan untuk membeli rumah, itu pun kalau developer membuat program yang mengedepankan insentif dimaksud. “Jadi, jangan sampai orang baru mau beli, fasilitasnya sudah berakhir. Kita harus melihat kebutuhan mereka.”

Dia memerinci faktor berikutnya adalah perbankan lebih fleksibel memberikan persetujuan kredit pemilikan rumah (KPR). Dia menegaskan hal itu merupakan backbone untuk pertumbuhan properti dan perbankan itu sendiri.

Apalagi, lanjutnya, sekitar 60 persen pembeli produk properti Sinar Mas Land memanfaatkan KPR, jadi mereka end-user, bukan membeli untuk tujuan investasi.

Faktor berikutnya, kata Alim, mesti ada perbaikan terkait dengan perizinan. Mulai 2021 developer perumahan harus mengakses Sistem Informasi Kumpulan Pengembang (SiKumbang). Dia meniklai hal itu ambigu, karena ternyata banyak pemerintah daerah yang tidak siap dengan regulasinya.

Apabila faktor-faktor tersebut dapat terealisasi, kata Alim, bisnis properti tahun depan akan bergerak naik menuju “jarum jam 9”. “Tapi, jangan langsung ke jam 12 yang membuat bisnis properti langsung berada di puncak dan kemudian turun lagi.”

Berdampak Signifikan

Harapan perpanjangan stimulus PPN DTP dikemukakan pula oleh Direktur Utama Bank BTN Haru Koesmahargyo yang menilai kehadiran insentif tersebut berdampak signifikan terutama dari sisi demand.

“Bayangkan, rumah dengan harga Rp1 miliar dapat pembebasan PPN Rp100 juta, sangat berarti untuk mendorong penjualan,” tutur Haru.

Sementara itu, Chief Executive Officer Indonesia Property Watch Ali Tranghanda mengemukakan bahwa insentif itu sebaiknya diperpanjang agar momen positif yang telah berjalan ini tidak hilang.

Dia juga menilai insentif PPN itu penting untuk menggerakkan perekonomian, karena akan mengerek 174 sektor lainnya untuk ikut berputar di tengah tekanan perekonomian akibat pandemi Covid-19.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti perumahan
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top