Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Alas Kaki Nantikan RCEP untuk Menaikkan Ekspor

Industri alas kaki nasional meyakini Kemitraan Ekonomi Komprehensif Kawasan atau Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) bakal membuka peluang untuk memperbesar pangsa ekspor.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 13 Desember 2021  |  17:41 WIB
Pekerja pabrik menyelesaikan proses produksi sepatu.  - Ilustrasi/Bisnis.com/WD
Pekerja pabrik menyelesaikan proses produksi sepatu. - Ilustrasi/Bisnis.com/WD

Bisnis.com, JAKARTA – Industri alas kaki nasional meyakini Kemitraan Ekonomi Komprehensif Kawasan atau Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) bakal membuka peluang untuk memperbesar pangsa ekspor. Negara-negara peserta RCEP tercatat sebagai salah satu pasar terbesar ekspor alas kaki.

Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakrie menjelaskan, ekspor sepatu ke negara-negara RCEP mencapai 29 persen dari total ekspor pada 2020 yang mencapai US$4,80 miliar, atau sekitar US$1,39 miliar.

Nilai ekspor itu menempatkan negara peserta RCEP sebagai destinasi ekspor alas kaki terbesar kedua setelah Uni Eropa.

“Uni Eropa tanpa Britania Raya menjadi tujuan 30 persen ekspor. Ternyata negara RCEP cukup besar, mencapai 29 persen pada 2020 dan disusul Amerika Serikat sekitar 27 persen,” kata Firman, Senin (13/12/2021).

Firman mengatakan, negara-negara RCEP menjadi pasar yang penting, terutama China yang memperlihatkan kenaikan impor cukup besar dalam kurun 2019 dan 2020.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan ekspor alas kaki ke China dan Hong Kong naik dari US$563,11 juta pada 2019 menjadi US$765,26 juta pada 2020.

“Jadi untuk industri alas kaki, ratifikasi RCEP menjadi cukup urgent. Pasar yang tumbuh paling pesat adalah China dan pada 2020 mencapai 24 persen, dan dari kontribusi ekspor ini kami cukup optimistis dalam peran RCEP untuk mendorong ekspor,” lanjutnya.

Firman juga tidak terlalu mengkhawatirkan persaingan dengan negara produsen lain, seperti Vietnam dan China. Dari sisi segmen pasar, produk alas kaki Indonesia memiliki segmen pasar sepatu olahraga bermerek, sedangkan China mendominasi ekspor alas kaki murah yang juga masuk ke berbagai negara.

Terlepas dari peluang peningkatan ekspor RCEP ke depan, Firman menuturkan, industri alas kaki menghadapi tantangan dalam menjaga daya saing untuk pasar dalam negeri.

Komitmen perdagangan bebas yang tertuang dalam RCEP secara langsung bakal memungkinkan masuknya produk-produk murah dari luar negeri.

Upaya menjaga daya saing, lanjutnya, juga belum diikuti dengan kesiapan industri hulu dalam negeri dalam memasok bahan baku.

Firman menjelaskan, sebagian besar bahan baku masih didatangkan dari luar negeri, karena industri tekstil dalam negeri belum secara penuh memenuhi kebutuhan.

“Dari segi nilai kita sebenarnya masih surplus, tetapi di sisi lain ketika produk murah luar negeri masuk maka akan berhadapan dengan produk lokal. Tentunya kami berharap dalam konteks meningkatkan ekspor, kita juga harus menjaga pasar dalam negeri, dan salah satu caranya dengan menjaga daya saing,” kata dia.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor Industri Alas Kaki Perjanjian Dagang
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top