Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Samuel Sekuritas: Pasar Ekspektasi Inflasi November Tembus 1,7 Persen

Ekspektasi pasar itu turut dipengaruhi oleh naiknya inflasi harga konsumen (consumer price index/CPI) di Asia Tenggara.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 30 November 2021  |  09:08 WIB
Samuel Sekuritas: Pasar Ekspektasi Inflasi November Tembus 1,7 Persen
Pedagang menata sayuran yang dijual di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (27/1/2020). - ANTARA / Sigid Kurniawan
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Samuel Sekuritas menyatakan bahwa pasar berekspektasi inflasi November 2021 akan naik menjadi 1,7 persen, sejalan dengan tren kenaikan di Asia Tenggara.

Macro Equity Strategist Samuel Sekuritas Lionel Priyadi menjelaskan bahwa dunia usaha menantikan pengumuman inflasi November 2021 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu (1/12/2021).

Menurut Lionel, dunia usaha berekspektasi bahwa inflasi pada November 2021 akan meningkat dari posisi bulan sebelumnya. Hal tersebut seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi yang meningkatkan permintaan dan produksi.

"Ekspektasi pasar inflasi naik menjadi 1.7 persen [year-on-year/YoY] pada November 2021 dari 1.66 persen YoY pada Oktober 2021," tulis Lionel dalam risetnya, Selasa (30/11/2021).

Ekspektasi pasar itu turut dipengaruhi oleh naiknya inflasi harga konsumen (consumer price index/CPI) di Asia Tenggara. Misalnya per Oktober 2021, inflasi di Singapura naik menjadi 3,2 persen dari bulan sebelumnya 2,5 persen, lalu di Malaysia naik ke 2,9 persen dari bulan sebelumnya 2,2 persen.

Selain inflasi, para pelaku pasar pun menantikan data terbaru Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur. Sebelumnya, PMI Manufaktur naik ke 57,2 pada Oktober 2021 dan melanjutkan tren ekspansif.

Adapun, Samuel Sekuritas menilai bahwa penyebaran varian Covid-19 omicron dan putusan Mahkamah Konstitusi terkait Undang-Undang (UU) Cipta Kerja menjadi sentimen utama yang memengaruhi kondisi investasi Indonesia saat ini.

Menurut Lionel, investor global mengkhawatirkan adanya penutupan (lockdown) di berbagai negara untuk mencegah penularan virus. Hal itu pun turut menjadi sentimen negatif bagi kondisi investasi di Indonesia saat ini.

"Investor global mengalihkan aset mereka dari saham dan komoditas ke surat utang pemerintah sebagai reaksi atas pemberitaan mengenai varian omicron," tulis Lionel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi indeks harga konsumen omicron
Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top