Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Awas Gelombang Ketiga Covid-19! Indef Minta Pemerintah Prioritaskan Kesehatan Rakyat

Menurut Indef, jika pemerintah terburu-buru membuka keran ekonomi untuk mengejar pertumbuhan maksimal pada tahun ini, rentan menimbulkan risiko penularan Covid-19.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 22 November 2021  |  20:13 WIB
Sejumlah kendaraan berjalan tersendat akibat pengalihan arus pemberlakuan ganjil-genap di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta, Jumat (27/8/2021).  ANTARA FOTO - Indrianto Eko Suwarso
Sejumlah kendaraan berjalan tersendat akibat pengalihan arus pemberlakuan ganjil-genap di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta, Jumat (27/8/2021). ANTARA FOTO - Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA — Institute for Development of Economics and Finance atau Indef menilai bahwa pemerintah harus memastikan kesehatan dan kecukupan kebutuhan rumah tangga masyarakat karena masih terdapat risiko gelombang ketiga Covid-19. Upaya mengejar pertumbuhan ekonomi dapat berjalan tahun depan tanpa terburu-buru.

Direktur Riset Indef Berly Martawardaya menilai bahwa pemerintah perlu fokus menjaga masyarakat dari penularan Covid-19 dan risiko lonjakan kasus gelombang ketiga. Risiko itu menjadi perhatian lantaran banyak negara di dunia yang dilanda lonjakan kasus.

Menurut Berly, pemerintah harus tidak perlu terburu-buru mengakselerasi pertumbuhan ekonomi karena masih terdapat pekerjaan-pekerjaan yang belum rampung dari sisi kesehatan. Misalnya, tingkat vaksinasi secara penuh atau dua dosis yang baru akan mencapai separuh perlu terus ditingkatkan.

"Ekonomi yang penting survive dulu, [pertumbuhan ekonomi] bisa dimaksimalkan tahun depan. Saat ini fokus dulu terhadap bantuan sosial, yang belum ada survey pemutakhiran datanya," ujar Berly kepada Bisnis, Senin (22/11/2021).

Menurutnya, jika pemerintah terburu-buru membuka keran ekonomi untuk mengejar pertumbuhan maksimal pada tahun ini, rentan menimbulkan risiko penularan Covid-19. Apabila itu terjadi, pada akhirnya perekonomian akan terimbas dan tidak sepadan dengan penderitaan korban-korban Covid-19 dan keluarga yang ditinggalkan.

Penurunan kasus Covid-19 yang terjadi saat ini dapat menjadi momentum bagi pemerintah dalam memperkuat jaring pengaman sosial. Berly menilai bahwa pemerintah harus memberikan perhatian lebih besar kepada masyarakat rentan, karena mereka akan merasakan dampak paling berat jika sampai gelombang ketiga terjadi.

"Tidak apa-apa [pertumbuhan ekonomi] sekitar 3 persen pada 2021 tetapi tidak memunculkan gelombang ketiga pada awal 2022, sehingga 2022 bisa terjadi pemulihan ekonomi yang natural dibandingkan prematur yang didorong pada 2021," ujarnya.

Adapun, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2021 di kisaran 5,5 persen–6 persen. Target itu dipatok karena beberapa indikator perekonomian tercatat positif.

“Jika mau tumbuh di 4 persen, maka di kuartal IV/2021 ini kita harus memacu pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,5 persen hingga 6 persen,” ujar Airlangga pada Senin (22/11/2021).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi indef Covid-19 PPKM
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top