Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengembangan Pembangkit Nuklir Masih Butuh Waktu

Dalam rencana umum penyediaan tenaga listrik (RUPTL) PLN 2021 - 2030, pengembangan PLTN masih menjadi pertimbangan pemerintah.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 21 November 2021  |  20:58 WIB
Petugas dari IAEA tengah melakukan pemeriksaan instalasi pembangkit nuklir. - www.world/nuclear/news.org
Petugas dari IAEA tengah melakukan pemeriksaan instalasi pembangkit nuklir. - www.world/nuclear/news.org

Bisnis.com, JAKARTA – Head of Indonesian Mining & Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo menilai proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir untuk mencapai netral karbon masih memerlukan waktu lama hingga 2050.

Dia menilai bahwa proyek PLTN saat ini belum terlalu diperlukan seiring dengan kapasitas pembangkit yang ada masih melebihi kebutuhan. Pemerintah juga masih menggeber pengembangan proyek 35.000 MW.

"Kalau saya lihat pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir masih cukup panjang, masih lama. Bisa jadi dibangun setelah 2050," katanya kepada Bisnis, Minggu (21/11/2021).

Nuklir masuk dalam rencana pemerintah sebagai pembangkit baru untuk mencapai netral karbon pada 2060. Meski begitu, pengembangan ini belum masuk rencana dalam 10 tahun ke depan. Dalam rencana umum penyediaan tenaga listrik (RUPTL) PLN 2021 - 2030, pengembangan PLTN masih menjadi pertimbangan pemerintah.

Namun belum ada kebijakan konkret untuk mencapai target tersebut. Selama sembilan tahun ke depan, pemerintah menargetkan pengembangan kapasitas listrik 40,5 gigawatt debgan 51,6 persen berasal dari energi baru terbarukan.

Sisanya 48,4 persen masih menggunakan bahan bakar fosil. Dari gambaran tersebut, nuklir belum menjadi fokus pemerintah dalam 9 tahun terakhir.

Di sisi lain, pengembangan PLTN tidak hanya berbicara soal kesiapan teknologi dan pemilihan wilayah pembangkit. Komoditas uranium sebagai bahan baku nuklir saat ini masih diawasi dunia. Pasalnya, nuklir masih menjadi barang sensitif dan menjadi perbincangan berbagai negara adidaya.

Meski hanya menjadi pembangkit listrik, penggunaan uranium akan tetap mendapat pengawasan ketat lembaga internasional terkait.

"Bisa jadi nuklir ke depan memang dibangun setelah 2050. Kalau dipercepat saya yakin pasti tetap mendekati tahun itu," terangnya.

Pemerintah memproyeksikan pembangkit listrik tenaga nuklir akan Commercial Operation Date (COD) pertama kali pada 2049. Ditargetkan total kapasitas PLTN mencapai 35 gigawatt (GW).

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Chrisnawan Anditya mengatakan bahwa pengebangan PLTN akan dikembangkan setelah 2035. 

“Dalam peta jalan transisi energi menuju karbon netral, kami memproyeksikan PLTN pertama mulai COD pada 2049 dan pada 2060 kapasitas PLTN akan mencapai 35 gigawatt [GW]," katanya kepada Bisnis. 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

PLN pembangkit listrik tenaga nuklir
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top