Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Aset Investasi Berikut Ini Bergerak Setelah Inflasi AS Naik Jadi 6,2 Persen

Kenaikan signifikan harga konsumen ini telah mendorong treasury dan saham teknologi jatuh dan mendorong dolar mendekati level tertinggi sepanjang tahun karena meningkatnya kemungkinan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lebih cepat.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 11 November 2021  |  17:05 WIB
Aset Investasi Berikut Ini Bergerak Setelah Inflasi AS Naik Jadi 6,2 Persen
Gedung bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Rabu (31/7/2019). Bloomberg - Andrew Harrer

Bisnis.com, JAKARTA - Lonjakan harga konsumen AS menjadi pukulan keras bagi pandangan yang melihat inflasi bersifat sementara. Hal ini membuat para investor harus memposisikan diri setelah inflasi naik menjadi 6,2 persen per Oktober 2021.

Dilansir Bloomberg pada Kamis (11/11/2021), harga saham, mata uang digital, emas, dan pertaruhan kurva imbal hasil terlihat menguat seiring dengan inflasi yang tinggi setelah harga konsumen AS naik ke level paling tinggi dalam tiga dekade. Sebelumnya, inflasi tahunan per Oktober mencapai 6,2 persen, tertinggi sejak 1990.

Kenaikan signifikan harga konsumen ini telah mendorong treasury dan saham teknologi jatuh dan mendorong dolar mendekati level tertinggi sepanjang tahun karena meningkatnya kemungkinan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lebih cepat.

Chris Weston, Kepala Penelitian Pepperstone Financial Pty Ltd., mengatakan investor mulai melakukan hedging ketika kekhawatiran inflasi semakin tinggi.

"Bitcoin baik-baik saja, crypto jug bekerja dengan baik sebagai lindung nilai. Emas telah bergerak naik bersamaan dengan dolar yang lebih kuat," katanya.

Dengan kenaikan inflasi yang cepat, potensi kenaikan suku bunga juga semakin besar sehingga mengancam saham-saham dengan valuasi besar. Artinya, saham perusahaan teknologi dan produk konsumen paling berisiko.

Managing Director Strategi Makro Medley Global Advisors Ben Emons mengatakan saham murah atau undervalue dapat menjaga kekuatan harga bahkan dengan perkiraan harga konsumen meningkat di atas 5 persen.

Imbal hasil riil juga menurun dan mendorong investor untuk mencari aset lindung nilai yang lebih berisiko dan lebih tradisional seperti emas.

Bitcoin, mata uang digital terbesar, naik ke rekor tertinggi hampir US$69.000 pada pekan ini, sementara total nilai pasar industri cryptocurrency baru-baru ini mencapai US$3 triliun.

Sementara itu, kurva imbal hasil surat utang negara kembali mendatar setelah sempat lesu dengan pergeseran ke atas. Perbedaan antara imbal hasil 5 tahun dan 30 tahun menyempit ke level yang tidak terlihat sejak Maret 2020 dalam semalam setelah laporan inflasi.

Hal itu menunjukkan investor khawatir terhadap kesehatan ekonomi AS atau risiko kesalahan kebijakan jika Federal Reserve merasa perlu bertindak untuk mengekang harga yang tidak terkendali.

Ekspektasi yang meningkat untuk kenaikan suku bunga segera setelah The Fed menyimpulkan tapering juga memperkuat dolar.

Risiko itu memicu aliran modal keluar dari aset pasar berkembang, berdampak pada saham, obligasi, dan mata uang lainnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham Inflasi amerika serikat bitcoin

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top