Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Punya Dana US$130 Triliun, Sri Mulyani dan GFANZ Siapkan 6 Langkah Jitu Tekan Emisi Karbon

Sebanyak US$130 triliun dana global dapat disalurkan ke negara miskin dan berkembang untuk bertransisi menuju target nol emisi karbon.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 04 November 2021  |  15:34 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani melantik sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pimpinan Tinggi Pratama di lingkungan Kementerian Keuangan, Senin (5/10/2021) -  Biro KLI / Kemenkeu
Menteri Keuangan Sri Mulyani melantik sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pimpinan Tinggi Pratama di lingkungan Kementerian Keuangan, Senin (5/10/2021) - Biro KLI / Kemenkeu
Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Indonesia bersama para menteri keuangan negara-negara lain dan CEO Glasgow Financial Alliance for Net Zero atau GFANZ menyiapkan enam langkah untuk mencapai nol emisi karbon atau net zero. Mobilisasi modal privat ke negara miskin dan berkembang akan menjadi fokus.
 
Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melalui unggahan resmi di akun Instagramnya @smindrawati pada Kamis (4/11/2021) atau Rabu (3/11/2021) waktu Glasgow, Skotlandia. Dia berada di Glasgow untuk mengikuti konferensi tingkat tinggi perubahan iklim Conference of the Parties (COP) 26.
 
Sri Mulyani menghadiri pertemuan dengan para menteri keuangan dan sejumlah CEO GFANZ untuk membahas upaya penanganan krisis iklim. Pertemuan itu pun mengusulkan enam langkah untuk mencapai ambisi net zero.
 
"Pertama, menetapkan target untuk mencapai target net zero pada 2050 dan capaian interim pada 2030," tulis Sri Mulyani dalam unggahannya yang dikutip pada Kamis (4/11/2021).

Usulan kedua yakni melakukan komunikasi ke publik dan privat terkait upaya penanganan krisis iklim dalam mengejar target nol emisi karbon. Ketiga, mendorong negara-negara Group of Twenty (G20) untuk menyusun rencana transisi yang kredibel.

Usulan keempat adalah implementasi pengurangan subsidi untuk bahan bakar fosil. Hal tersebut pernah disampaikan Sri Mulyani dalam konteks transisi produsen batu bara dan pembangkit listrik dengan sumber bahan bakar fosil ke energi terbarukan.

Kelima, mendorong aksi dan pelaporan dari Task Force for Climate action Disclosure pada 2024. Keenam, menyelaraskan isu transisi dengan Sustainable Development Goals (SDGs) termasuk perlindungan keanekaragaman hayati (biodiversity).

"Beberapa inisiatif dari sektor privat, seperti Climate Action Leadership Initiative [CFLI] didukung oleh Bloomberg dan direncanakan proyeknya berada di India dan Indonesia," tulis Sri Mulyani.

Menurutnya, pertemuan itu pun mendorong penyelesaian dan penerapan peta jalan (roadmap) dari Sustainable Finance Working Group dalam Forum G20 dan mengundang dukungan MDBs untuk meningkatkan dana sektor swasta.

Pertemuan itu pun menyampaikan adanya potensi dana finansial global sebesar US$130 triliun untuk membantu negara miskin dan berkembang untuk menuju transisi ke net zero. Penyaluran dana tersebut dapat membantu negara miskin dan berkembang untuk melakukan transisi tanpa mengganggu stabilitas perekonomiannya.

"Inilah kolaborasi dalam aksi perubahan iklim menuju net zero, dengan fokus memobilisasi modal privat untuk program transisi, khususnya di negara miskin dan berkembang," tulis Sri Mulyani.
Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

energi terbarukan sri mulyani emisi karbon
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top