Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Perdana Menteri China Akui Ekonomi Sedang Tertekan

Indeks manajer pembelian manufaktur China resmi turun menjadi 49,2. Artinya, sudah 2 bulan beruturut-turut indeks berada di bawah 50 yang menandakan adanya kontraksi pada produksi.
Suasana jalanan di kota Beijing China/ Bloomberg
Suasana jalanan di kota Beijing China/ Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Perdana Menteri China, Li Keqiang, mengatakan bahwa negara itu sedang menghadapi tekanan baru dan berencana memangkas pajak dan biaya bagi bisnis kecil.

Dilansir Bloomberg pada Rabu (3/11/2021), kendati tidak menjelaskan secara rinci, frasa yang digunakan oleh pejabat China terkait tekanan berarti sebuah perlambatan ekonomi. Ungkapan tersebut telah diucapkan beberapa kali pada 2019.

Menurutnya, ekonomi membutuhkan penyesuaian lintas siklus, kata Li selama kunjungan ke regulator pasar utama China seperti dilaporkan CCTV. Ungkapan itu berkaitan dengan pendekatan fiskal dan moneter yang lebih konservatif dan lebih fokus pada prospek jangka panjang daripada kinerja ekonomi langsung.

Ekonomi China terus melambat dalam beberapa bulan terakhir akibat tekanan Beijing di sektor properti. Pernyataan Li ini mengikuti semakin lemahnya pertumbuhan dengan kelangkaan listrik di negara itu.

“Tidak ada pendorong pertumbuhan yang jelas sekarang, jadi pemerintah sedang mencarinya,” kata Bruce Pang, Kepala Penelitian Makro dan Strategi China Renaissance Securities Hong Kong Ltd.

Untuk itu, pemerintah lebiih memilih menyelamatkan investasi usaha kecil yang dapat menyediakan sumber keuangan yang lebih sehat dan jangka panjang, dibandingkan dengan investasi pemerintah atau properti.

Dalam hal ini, otoritas akan mendorong perbankan untuk memberikan pinjaman leih banyak lagi kepada bisnis kecil. Lebih jauh lagi, otoritas juga akan mengurangi pajak dan biaya agar menyederhanakan prosedur administrasi.

Indeks manajer pembelian manufaktur resmi turun menjadi 49,2, menurut Biro Statistik Nasional pada Minggu. Artinya, sudah 2 bulan beruturut-turut indeks berada di bawah 50 yang menandakan adanya kontraksi pada produksi.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Nindya Aldila
Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper