Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Masih Defisit US$3,74 Miliar, Pebisnis Belum Optimalkan Potensi Kawasan Pasifik

Pemanfaatan ekspor Indonesia ke Australia dan Selandia Baru masih rendah jika dibandingkan dengan kompetitor di kawasan Asean seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia. 
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 22 Oktober 2021  |  20:06 WIB
Shinta W Kamdani - Istimewa
Shinta W Kamdani - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Kalangan pengusaha dalam negeri masih belum mengoptimalkan peluang dagang di kawasan Pasifik kendati pemerintah telah mendorong penetrasi pasar di kawasan itu. 

Koordinator Wakil Ketua Umum III Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Maritim, Investasi dan Luar Negeri Shinta W. Kamdani mengatakan eksportir dalam negeri relatif belum memanfaatkan perjanjian Asean Australia New Zealand Free Trade Agreement (AANZFTA). 

Shinta menerangkan pemanfaatan ekspor Indonesia ke Australia dan Selandia Baru masih rendah jika dibandingkan dengan kompetitor di kawasan Asean seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia. 

Padahal, menurut Shinta, Indonesia memiliki potensi ekspor yang besar dengan produk buah tropis, kendaraan bermotor, pakaian jadi hingga sepatu. Selain itu, produk spa dan herbal juga potensial untuk diekspor ke pasar yang ada di kawasan Pasifik. Alasannya, kawasan itu memiliki sektor pariwisata yang cukup besar. 

“Tingkat penggunaan AANZFTA Indonesia merupakan yang kedua paling rendah dimanfaatkan di antara Asean+1 FTA yang kita miliki dengan enam negara mitra setelah AIFTA [Asean-India FTA] padahal AANZFTA memberikan eliminasi tarif hampir 100 persen terhadap produk Indonesia yang diekspor ke Australia dan New Zealand,” kata Shinta melalui keterangan tertulis kepada Bisnis, Jumat (22/10/2021). 

Belum optimalnya realisasi dagang ke kawasan itu juga ditengarai lantaran eksportir dalam negeri masih kesulitan untuk memenuhi standar produk yang ditetapkan. Khususnya, kata Shinta, untuk sejumlah produk makanan dan barang konsumsi. 

“Umumnya kendala ekspor terbesar ke Australia atau Selandia Baru adalah masalah pemenuhan standar produk, kedua negara ini punya kepentingan tinggi melindungi keragaman hayatinya dan ekosistem lokalnya yang untuk, jauh lebih ketat dibandingkan standar internasional yang berlaku di Eropa dan Amerika,” tuturnya. 

Di sisi lain, dia menambahkan eksportir Indonesia masih mempertimbangkan kemungkinan untuk penetrasi ke negara-negara kepulauan Pasifik yang relatif memiliki keuntungan ekspor yang rendah. Selain risiko ekspor yang tinggi karena negara-negara kepulauan itu memiliki skala pasar yang kecil. 

“Daya belinya relatif rendah dan letaknya pun terpencil sehingga logistik perdagangan sangat jarang atau hampir tidak ada,” kata dia. 

Pemerintah berupaya mengoptimalkan penetrasi dagang di kawasan pasifik menjelang perhelatan Pacific Exposition 2021 yang bakal digelar secara daring pada 27-30 Oktober 2021. Rencananya, pameran dagang itu dapat mencetak transaksi hingga Rp2 triliun. 

Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru dan negara di sekitar Pasifik Tantowi Yahya mengatakan perhelatan Pacific Exposition 2021 itu dapat membuka akses pasar Indonesia ke kawasan pasifik yang belum dimanfaatkan secara optimal. 

“Kawasan Pasifik sebenarnya pasar yang besar dalam konteks penyerapan produk-produk Indonesia, jika digabungkan dengan Australia maka ada kurang lebih 50 juta orang yang ada di kawasan itu,” kata Tantowi saat keterangan pers daring, Jumat (22/10/2021). 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pasifik defisit neraca perdagangan kerja sama perdagangan
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top