Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jalan Trans Papua, Kementerian PUPR Fokus Buka Akses Logistik Wamena

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) fokus membuka akses logistik pada titik-titik strategis dalam konstruksi Jalan Trans Papua (JTP) dalam waktu dekat.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 15 Oktober 2021  |  18:29 WIB
Jalan Trans Papua. - Istimewa/Kementerian PUPR
Jalan Trans Papua. - Istimewa/Kementerian PUPR

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) fokus membuka akses logistik pada titik-titik strategis dalam konstruksi Jalan Trans Papua (JTP) dalam waktu dekat.

Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Hedy Rahadian mengatakan bahwa salah satu titik strategis yang dimaksud adalah Kota Wamena. Hedy menargetkan agar Wamena dapat tersambung dengan salah satu koridor logistik dalam waktu dekat.

“Tujuan jalan kan menekan biaya logistik. Jadi kami fokus [membuka akses Wamena], yang penting fokus satu koridor dulu [yang bisa membuka akses logistik Wamena],” katanya di Jakarta, Jumat (15/11/2021).

Hedy menjelaskan, pembukaan akses logistik yang dimaksud adalah jalan nasional yang sudah melalui proses perkerasan dan aspal.

Seperti diketahui, ada dua segmen JTP yang menjadi koridor logistik, yakni Segmen III Enarotali–Wamena (469,48 kilometer), dan Segmen IV Wamena–Jayapura (447,22 kilometer).

Segmen III akan menghubungkan Wamena dengan koridor logistik darat ke arah Provinsi Papua Barat. Sementara itu, Segmen IV akan menghubungkan Wamena dengan koridor logistik laut, karena akan mengoneksikan Wamena dengan Jayapura.

Hedy meramalkan, kondisi jalan akses logistik Segmen III yang saat ini sepanjang 91,75 kilometer tidak akan berubah hingga akhir 2021. Namun demikian, segmen tersebut akan tersambung sepenuhnya, lantaran jalan sepanjang 5,4 kilometer yang ditutupi hutan sudah dibebaskan.

Adapun, akses logistik Segmen IV akan meningkat dari 246,71 kilometer pada akhir 2020 menjadi 357,19 kilometer di akhir 2021. Alhasil, jalan tanah akan berkurang dari 200,51 kilometer menjadi 90,03 kilometer.

Hedy sebelumnya mengatakan, progres konstruksi di JTP mengalami deviasi negatif sebesar 6,9 persen. Deviasi negatif juga terjadi pada pencairan dana proyek yang mencapai 5,67 persen.

Hedy menilai, setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan deviasi negatif pada proyek JTP. Pertama, gangguan keamanan pada paket pekerjaan.

Hedy mencatat, panjang kawasan hutan pada segmen Kenyam–Dekai sepanjang 10,61 kilometer belum akan berubah hingga akhir 2021. Panjang jalan aspal dan jalan tanah segmen tersebut tidak akan berubah, yakni masing-masing sepanjang 26,1 kilometer dan 181,19 kilometer.

Bertahannya status quo ruas Kenyam–Dekai disebabkan oleh pembakaran di Jalan Seradala–Dekai Kabupaten Yahukimo. Hedy melaporkan, kelompok separatis membakar basecamp konstruksi dan beberapa peralatan proyek

“[Hal tersebut] mengakibatkan penghentian pekerjaan sementara dan evakuasi seluruh pekerja,” ucapnya.

Kedua, banyak terjadi pemalangan di lokasi pekerjaan atau quarry karena permasalahan hak ulayat. Hedy berujar, hal tersebut membuat progres konstruksi JTP tertahan.

Ketiga, pandemi Covid-19 dan penanganannya. Pasalnya, pemerintah menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang juga membatasi peredaran logistik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

trans papua Kementerian PUPR
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top