Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dongkrak Daya Saing Keramik Domestik, Safeguard Saja Tak Cukup

Kenyataannya, meski dikenakan safeguard, keramik dari negara pesaing seperti China, India, dan Vietnam masih mampu mempertahankan daya saing berkat dukungan struktur biaya produksi yang kuat.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 06 Oktober 2021  |  18:10 WIB
Ilustrasi pabrik keramik.  - Bisnis.com
Ilustrasi pabrik keramik. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA — Bea masuk tindakan pengamanan (BMTP) atau safeguard untuk keramik yang diterapkan sejak 2018 dinilai belum efektif membendung serbuan produk impor. Terbukti dengan pertumbuhan impor keramik di atas 60 persen pada Januari-Agustus 2021, dengan China naik 105 persen dan India 20 persen.  

Peneliti di Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Indef Ahmad Heri Firdaus menyebut tak cukup menerapkan safeguard untuk membangun ketahanan industri dalam negeri.

Kenyataannya, meski dikenakan safeguard, keramik dari negara pesaing seperti China, India, dan Vietnam masih mampu mempertahankan daya saing berkat dukungan struktur biaya produksi yang kuat.

India misalnya, mampu menekan ongkos produksi dengan harga gas industri sebesar US$2,5/MMbtu. Bandingkan dengan industri keramik dalam negeri yang mengeluarkan US$6/MMbtu untuk ongkos gas. Sementara itu China menerapkan pemotongan pajak ekspor atau tax rebate sebesar 13 persen.

"Biaya-biaya yang lebih mahal itu menyebabkan kita relatif tidak berdaya saing dibandingkan degan negara lain," kata Heri kepada Bisnis, Rabu (6/10/2021).

Heri melanjutkan, safeguard hanyalah satu dari sekian banyak instrumen untuk mendongkrak daya saing industri. Selain harga gas industri yang lebih terjangkau, dukungan lain seperti insentif pajak dan efisiensi ongkos logistik akan menjadi katalis yang nyata pengaruhnya pada industri keramik.

"Dengan safeguard saat ini di angka 19 persen, impornya meningkat. Bagaimana nanti jika 17 persen, makin bisa meningkat. Artinya ini bukan merupakan satu-satunya alat untuk ketahanan industri," jelasnya.

Berdasarkan data dari Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki), total ongkos produksi keramik domestik mencapai Rp83.535/m2. Ditambah dengan ongkos logistik, angka tersebut dapat membengkak hingga Rp86.135/m2 hingga Rp94.558/m2, tergantung lokasi pengapalan di dalam negeri.

Sementara itu, harga jual keramik impor dari China dan India sesudah dikenakan safeguard sebesar Rp80.027/m2. Dengan harga gas industri US$2,5/MMbtu bahkan India mampu menekan harga jualnya menjadi Rp71.548/m2. Adapun harga jual keramik Vietnam setelah pengenaan safeguard yakni Rp80.837/m2. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur Safeguard keramik
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top