Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pelaku Industri: Penerapan EBT Harus Tetap Perhatikan Daya Saing

Pelaku industri meminta agar penerapan energi baru dan terbarukan (EBT) tetap memperhatikan pertumbuhan dan daya saing di dalam negeri. Kebijakan itu pun diminta jangan sampai mengorbankan industri di Tanah Air.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 05 Oktober 2021  |  19:29 WIB
Pekerja membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Selasa (2/2/2021). - ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
Pekerja membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Selasa (2/2/2021). - ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku industri meminta agar penerapan energi baru dan terbarukan (EBT) tetap memperhatikan pertumbuhan dan daya saing di dalam negeri. Kebijakan itu pun diminta jangan sampai mengorbankan industri di Tanah Air.

Menanggapi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2021–2030, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Aromatik Olefin dan Plastik (Inaplas) Fajar Budiono mengatakan bahwa pada dasarnya pelaku industri mendukung pengembangan EBT di dalam negeri.

Namun, para pelaku industri memerlukan acuan dan aturan yang jelas terkait penerapan EBT di dalam negeri agar bisa terus menjaga keberlangsungan industri.

“Artinya industri setuju dan support untuk EBT. Hanya saja penerapannya harus hati-hati. Perlu perlindungan industri dalam negeri dan pertumbuhannya harus menjadi nomor satu, jangan sampai produk impor yang mendominasi pasar,” katanya kepada Bisnis, Selasa (5/10/2021).

Fajar menambahkan, industri petrokimia sampai dengan saat ini 80 persen sumber listriknya masih mengandalkan dari PLN. Keputusan peningkatan bauran EBT pada PLN pun tidak menjadi masalah dalam pemenuhan kebutuhan pasokan listrik untuk industri nantinya.

Terkait dengan harga, kata dia, pihaknya meminta agar industri yang telah mengembangkan EBT bisa mendapatkan insentif. Selain itu, pihaknya juga meminta skema ekspor-impor listrik yang jelas agar nantinya bisa menekan biaya listrik yang digunakan.

“PLN punya produk zero emission panas bumi, tenaga surya, dan angin. Akan tetapi itu masih belum mencukupi. Tinggal kalau sudah berinovasi menggunakan panel surya dan EBT lain, mekanismenya bagaimana? kadang industri itu kan pasti ada saja kelebihan atau kekurangan dari energi, dan harus di-trading,” jelasnya.

Di lain pihak, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta menilai, penggunaan energi baru dan terbarukan justru bakal memberikan tarif listrik yang lebih murah.

Dia menambahkan, para pelaku industri pada prinsipnya mendukung pengembangan EBT guna menekan emisi karbon sesuai dengan target yang ditetapkan.

“Pada prinsipnya kami setuju jika bauran EBT-nya dinaikan, karena selain lebih ramah lingkungan kan harusnya lebih murah,” katanya kepada Bisnis, Selasa (5/10/2021).

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

energi baru terbarukan RUPTL
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top