Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Asosiasi Furnitur Bidik Kenaikan Ekspor 20 Persen per Tahun

Pada 2024, Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menargetkan ekspor dapat mencapai Rp71,24 triliun.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 24 September 2021  |  13:06 WIB
Asosiasi Furnitur Bidik Kenaikan Ekspor 20 Persen per Tahun
Pekerja menyelesaikan tahap produksi mebel kayu jati di Desa Mekar Agung Lebak, Banten. Kerajinan mebel berupa kursi, meja, dan tempat tidur yang berbahan dasar limbah kayu jati dan mahoni dengan harga berkisar Rp13 juta hingga Rp5 juta per unit. - Antara/Mansyur S
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menargetkan capaian nilai ekspor senilai US$5 miliar per tahun (Rp71,24 triliun) pada 2024. Ketua HIMKI Abdul Sobur mengatakan nilai dari pengapalan ke negara lain tersebut dapat dicapai dengan pertumbuhan berkisar 15-20 persen per tahun.

Menurut catatan Kementerian Perindustrian, ekspor furnitur sepanjang tahun lalu sebesar US$1,91 miliar atau tumbuh 7,6 persen dibandingkan dengan 2019 sebesar US$1,77 miliar. Adapun negara utama tujuan ekspor furnitur Indonesia yakni Amerika Serikat, Jepang, Belanda, Belgia, dan Jerman.

"Kami ingin membuat pertumbuhan [nilai ekspor hingga] US$5 miliar per tahun di 2024. Ada waktu tiga tahun untuk bersiap dan pertumbuhannya harus 15-20 persen per tahun," kata Abdul dalam siaran live, Jumat (24/9/2021).

Pada triwulan I 2021, sektor ini dapat tumbuh positif sebesar 8,04 persen, setelah terkontraksi 7,28 persen pada periode yang sama tahun lalu. Adapun subsektor industri kayu, barang dari kayu, rotan, dan furnitur berkontribusi sebesar 2,60 persen terhadap pertumbuhan kelompok industri agro.

Abdul mengatakan pertumbuhan ekspor furnitur Indonesia pada tahun ini masih dipengaruhi sentimen perang dagang AS-China. Menurur catatan HIMKI, ekspor furnitur dari China ke AS mengalami penurunan drastis tahun lalu, dari sekitar US$38 miliar pada 2019 menjadi US$10 miliar saja pada 2020.

Ceruk pasar itulah yang diambil oleh negara-negara pengekspor furnitur lain, termasuk Indonesia. Sementara itu, Abdul mengatakan banyak pengusaha furnitur yang belum menekuni pasar domestik. Sebanyak 98 persen anggota HIMKI, mengkhususkan produknya untuk ekspor.

Dia pun berupaya mendorong keseimbangan penetrasi pasar antara domestik dan ekspor. Idealnya, pemain dalam negeri di pasar domestik mencapai 50 persen sehingga tidak dikuasai oleh merek asing.

Namun, dia mengaku masih kesulitan mendapatkan bahan baku. Dia meminta pemerintah untuk terus mengupayakan keberlanjutan bahan baku furnitur.  

"Lahan Perhutani yang 25 juta hektar belum dioptimalkan, apalagi akan dimanfaatkan untuk perhutanan plus. Perhutani harus disokong besar-besaran supaya bisa menanam pohon besar-besaran," lanjut Abdul. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor mebel furnitur
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top