Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Upaya Industri Tekstil Dorong Kinerja Manufaktur

Industri tekstil dan produk tekstil berupaya mendorong kinerja pertumbuhan manufaktur hingga 5 persen.
Ipak Ayu
Ipak Ayu - Bisnis.com 30 Agustus 2021  |  09:53 WIB
Ini Upaya Industri Tekstil Dorong Kinerja Manufaktur
Pekerja menyelesaikan produksi celana di salah satu industri tekstil, Kopo, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (21/1 - 2021). /ANTARA
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) menyebut salah satu upaya yang cukup mudah dilakukan untuk mencapai pertumbuhan 5 persen guna mendorong kinerja manufaktur yakni dengan menjaga pasar domestik.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan pertumbuhan 5 persen tersebut bahkan bisa dicapai tanpa kinerja ekspor yang sekarang juga penuh dengan tantangan.

Sayangnya, kebijakan-kebijakan untuk menjaga pasar domestik yang sudah direncanakan hingga kini belum juga dirilis.

"Seperti safeguard garmen yang sudah direkomendasi saja tidak kunjung keluar karena ada yang mengkhawatirkan inflasi. Padahal share konsumsi TPT ke PDB hanya 2 persen tidak akan signifikan ke inflasi malah ada sisi pertumbuhan dan pemerataan yang tidak pernah dihitung," katanya kepada Bisnis.com, Minggu (29/8/2021).

Redma menyebut jika inflasi naik 5 persen sedangkan pertumbuhan per sektor juga 5 persen, level tersebut dipastikan masih baik. Pasalnya, di dalam pertumbuhan selalu ada pemerataan dan efek kegiatan ekonomi lain, apalagi garmen yang 80 persen diisi oleh IKM.

Menurut Redma, dengan kebijakan gas murah yang diterima industri hulu akan berdampak pada depan daya saing TPT yang lebih baik. Redma menyebut dengan harga gas US$6 per mmbtu maka biaya produksi bisa dikurangi hingga di atas 5 persen jika sudah berjalan maksimal ke depan.

"Jadi, secara peraturan juga penetapan kebijakan perdagangan seperti safeguard ini memang sering menyalahi aturan karena seharusnya ditetapkan 45 hari setelah direkomendasikan," ujar Redma.

Saat ini, lanjut Redma, pihaknya juga telah mengusulkan relaksasi modal kerja pada Kementerian Perindustrian. Usulan itu dengan menggandeng perbankan dan PLN, karena saat ini industri juga memahami pemerintah sudah banyak mengeluarkan dana dan cukup kesulitan.

Adapun skema relaksasi modal kerja yang diinginkan industri tekstil yakni pembayaran listrik pada PLN melalui dana bank selama enam bulan. Menurutnya, pengusaha tidak akan keberatan meski ada bunga yang harus dibayar.

Redma menyebut dengan skema itu, bahkan keuntungan akan didapat tiga lembaga sekaligus mulai dari beban biaya produksi industri yang berkurang, penerimaan PLN tidak terlambat, dan dana perbankan yang bisa tersalurkan.

"Jaminan juga jelas, aliran listrik di mana kalau diputus pabrikan tidak bisa jalan," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur tekstil
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top