Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekonom Sebut Target 2022 Kemenperin Ambisius

Andry menyebut seharusnya proyeksi dibangun dari asumsi tercapainya program vaksinasi. Apabila hingga akhir tahun masih pada kisaran 40-50 persen, kemungkinan restriksi masih akan menghambat kinerja industri.
Pekerja menyelesaikan pembuatan perangkat alat elektronik rumah tangga di PT Selaras Citra Nusantara Perkasa (SCNP), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (19/8/2020). Bisnis/Abdullah Azzam
Pekerja menyelesaikan pembuatan perangkat alat elektronik rumah tangga di PT Selaras Citra Nusantara Perkasa (SCNP), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (19/8/2020). Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Kepala Center of Industry, Trade, and Investment Indef Andry Satrio Nugroho menyebut target Kementerian Perindustrian dalam mematok pertumbuhan industri manufaktur cukup ambisius.

Meski secara angka, pertumbuhan di level 4,5–5 persen merupakan proyeksi yang wajar karena pertumbuhan ekonomi juga dipatok di level 5-5,5 persen.

"Namun, saya kira ini ambisius karena 2022 masih penuh ketidakpastian dan belum pulih sepenuhnya. Apalagi melihat dari vaksin yang saat ini bahkan 30 persen untuk dosis kedua saja belum tercapai," katanya kepada Bisnis, Rabu (25/8/2021).

Andry menyebut seharusnya proyeksi dibangun dari asumsi tercapainya program vaksinasi. Apabila hingga akhir tahun masih pada kisaran 40-50 persen kemungkinan restriksi masih akan menghambat kinerja industri.

Kemudian, mengacu pernyataan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi bahwa masyarakat diproyeksi masih akan bergelut dengan pandemi setidaknya hingga dua tahun ke depan.

Artinya, dalam rentang waktu tersebut ekonomi belum bisa kembali seperti sebelum pandemi. Sementara pertumbuhan manufaktur yang dipatok tahun depan sudah mencerminkan kondisi seperti sebelum pandemi.

"Juga seharusnya fokus sekarang bukan di pertumbuhan, pemerintah baiknya lebih melihat per sektor di mana yang paling terdampak harus mendapat perhatian lebih besar," ujar Andry.

Sementara itu, Andry menilai hingga saat ini sektor paling terdampak mayoritas adalah padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja. Alhasil, fokus penyelamatan tenaga kerja dari PHK dan pemulihan industri seharusnya menjadi prioritas sebelum mengejar pertumbuhan.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Pertumbuhan manufaktur tahun depan dipatok 4,5–5 persen atau sedikit naik dari proyeksi tahun ini yang 4-4,5 persen. Sementara dari sisi ekspor, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memproyeksi akan mencapai US$141-147 miliar dari perkiraan tahun ini US$136–US$141 miliar.

Adapun untuk investasi manufaktur tahun depan diprediksi akan mencapai Rp368 triliun naik dari tahun ini Rp301 triliun.

"Dari sisi subtitusi impor kami proyeksi akan tercapai sesuai program yang sejak 2019 kami gencarkan yakni 35 persen dari tahun ini 22 persen," katanya dalam rapat kerja Komisi VII DPR RI, Rabu (25/8/2021).


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Ipak Ayu
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper