Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kemacetan Pelabuhan di China Memburuk, Penutupan Belum Berakhir

Di Shanghai dan di Hong Kong, kemacetan sekali lagi meningkat setelah menurun karena pembukaan kembali Pelabuhan Yantian di Shenzhen, yang ditutup pada Mei karena wabah virus.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 18 Agustus 2021  |  11:58 WIB
Kemacetan Pelabuhan di China Memburuk, Penutupan Belum Berakhir
Pelabuhan Ningbo-Zhoushan adalah pelabuhan tersibuk ketiga secara global dalam hal pengiriman peti kemas pada 2020 dan tersibuk kedua di China setelah Shanghai, menurut publikasi maritim Lloyd's List - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Penutupan sebagian pelabuhan peti kemas tersibuk ketiga di dunia, Ningbo, memperburuk kemacetan di pelabuhan-pelabuhan besar lainnya di China.

Kapal-kapal dialihkan dari Ningbo di tengah ketidakpastian tentang berapa lama langkah-langkah pengendalian virus di kota itu akan berlangsung.

Dilansir Bloomberg, Rabu (18/8/2021), di Shanghai dan di Hong Kong, kemacetan sekali lagi meningkat setelah menurun karena pembukaan kembali Pelabuhan Yantian di Shenzhen, yang ditutup pada Mei karena wabah virus.

Jumlah kapal kontainer yang berlabuh di Xiamen di pantai tenggara China naik menjadi 24 pada Selasa (17/8/2021) dari 6 pada awal bulan.

Terminal Meishan di Pelabuhan Ningbo ditutup pekan lalu setelah seorang pekerja dermaga terinfeksi virus Corona varian delta. Terminal menyumbang sekitar seperempat dari kapasitas pelabuhan, dan masih ditutup kemarin, menurut seorang pekerja di kantor pers yang enggan disebutkan namanya.

Menurut penyedia intelijen logistik 44, jika pembukaan kembali secara bertahap dimulai minggu ini untuk mengatasi kemacetan, dimulainya kembali operasi secara penuh dapat dimungkinkan pada awal September.

Menurut Simon Heaney, Manajer Senior Penelitian Peti Kemas di Drewry Shipping Consultants Ltd, perusahaan pelayaran terbesar di dunia termasuk AP Moller-Maersk A/S dan CMA CGM SA melewatkan pelabuhan Ningbo, China, setelah penutupan.

Perusahaan lebih memilih untuk mengalihkan pengiriman ke pelabuhan lain daripada menunggu di luar Ningbo untuk jangka waktu yang tidak diketahui sementara wabah Covid-19 berlanjut, katanya.

Beberapa kapal lain bersedia menunggu, dengan 141 kapal berlabuh bersama untuk pelabuhan Shanghai dan Ningbo Selasa, 60 lebih banyak dari jumlah rata-rata dari April hingga Agustus.

“Kami mendengar backlog semakin besar dan kemacetan semakin parah. Gangguan lintas pelabuhan benar-benar terkait. Jika Anda membeli barang yang berasal atau bergerak melalui China, Anda perlu meningkatkan waktu tunggu atau mencari sumber pasokan lain,” kata Dawn Tiura, CEO asosiasi industri logistik Sourcing Industry Group.

Industri pengapalan telah mengalami sejumlah guncangan sepanjang tahun ini yang menciptakan penundaan dalam rantai pengiriman global dan mendorong tarif ke rekor tertinggi. Gangguan itu mulai dari kapal besar yang terjebak di Terusan Suez pada Maret hingga wabah virus di Asia Tenggara dan China yang mengurangi produktivitas di pelabuhan.

Data Bloomberg menunjukkan, kemacetan telah membentang melintasi Samudra Pasifik hingga Pelabuhan Long Beach di Los Angeles, di mana lebih dari 30 kapal menunggu untuk masuk ke pelabuhan untuk menurunkan muatan. Di tempat lain di Asia Tenggara, kapal yang berlabuh di dua pelabuhan terbesar Vietnam naik menjadi enam di atas median.

"Sebagian besar pelabuhan sudah mengalami kemacetan atau penundaan, jadi setiap volume tambahan dan tidak terpenuhi akan menambah lebih banyak tekanan,” kata Heaney dari Drewry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pelabuhan china shanghai
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top